Mar 132018
 

Catatan Kenangan Mengikuti Kunjungan Pak Harto: KADO PBB DI HARI ULANG TAHUN

 

 

Jakarta, Pelita

HARI ini genap satu tahun yang lalu. Keadaan salah sebuah kamar di hotel “The Plaza” New York, Amerika Serikat, sepertinya biasa­biasa saja. Tidak ada tanda-tanda yang sangat menonjol bahwa di dalam ruang kamar hotel itu sedang diselenggarakan upacara sederhana memperingati hari lahir seorang kepala negara, hari ulang tahun ke-68 Presiden Soeharto.

Bari itu juga, 8 Juni 1989, Presiden Soeharto menerima anugerah “Population Award” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di Markas Besar PBB New York. Badiah tertinggi yang juga merupakan “kado” buat Pak Harto yang diserahkan langsung oleh Sekjen PBB Javier Perez de Cuelar, yakni piagam penghargaan atas keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) Sebagai salah seorang warga negara Indonesia yang memperoleh kesempatan emas menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa akbar itu, saya merasakan sentuhan tersendiri hal itu.

Seakan jiwa ini tersentak menyaksikan penganugerahan tanda penghargaan itu kepada pimpinan bangsa Indonesia, Presiden Soeharto. Rasa kantuk yang semula menggelayut, secara tiba-tiba lenyap menyaksikan penganugerahan piagam penghargaan itu. Apalagi menyaksikan tepuk tangan riuh dari para undangan yang hadir memenuhi ruang upacara di Markas Besar PBB tersebut. Ada kebanggaan tersendiri yang terselip dalam hati ini terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto.

Betapa tidak. Penganugerahan piagam penghargaan itu merupakan peristiwa yang tidak ternilai harganya bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal itu membuktikan kemampuan bangsa Indonesia untuk turut berkiprah di forum internasional.

 

Sangat Besar

Memperoleh kesempatan mengikuti kunjungan Presiden Soeharto ke luar negeri untuk pertama kalinya, bagi saya merupakan hal yang tidak terduga sebelumnya. Perasaan seperti mimpi masih tetap terasa kendati saya malam itu (5/6/89) sudah berada di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Namun perasaan itu hilang sama sekali ketika pesawat DC-10 Garuda yang membawa Presiden dan rombongan mulai menjelajah dan menembus kegelapan malam.

Selang beberapa waktu mengarungi angkasa yang pekat, terlihat Pak Harto dan Ibu Tien meninggalkan tempat duduknya untuk bertemu satu persatu dengan anggota rombongan. Presiden Soeharto yang mengenakan jas kotak-kotak kecil warna abu-abu lengkap dengan peci memberikan senyum kepada seluruh anggota rombongan.

Demikian juga dengan Ibu Tien Soeharto yang mengenakan kebaya warna hijau kembang-kembang tersenyum ramah dan melakukan tegur sapa kepada anggota rombongan.

Sikap itu tidak hanya dilakukan Pak Harto pada waktu berada di dalam pesawat selama dalam perjalanan, tapi ketika melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia baik ketika di New York, Washington maupun ketika berada di Jenewa, Swiss.

Kepada masyarakat Indonesia yang sedang berada di luar negeri itu, Kepala Negara tetap membawa kepribadian sebagai “bapak seluruh rakyat Indonesia”. Sehingga wejangan-wejangan yang diberikan Pak Harto di setiap pertemuan itu, mendapat sambutan penuh dari masyarakat Indonesia.

Bahkan gaung kehadiran Presiden Soeharto di beberapa kota diluar negeri teresonansi ke setiap telinga warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. Buktinya? Ketika saya sedang berada di suatu tempat perbelanjaan di Jenewa, Swiss secara tidak sengaja berjumpa dengan dua pemuda Indonesia. Mereka kendati tidak tinggal di Kota Jenewa mereka meluangkan waktu untuk datang ke kota itu agar bisa bertatap muka dengan Presidennya.

Pertemuan masyarakat Indonesia dan Presiden Soeharto yang penuh kharisma dan sifat kebapakan sangat menonjol sekali. Pertemuan itu menjadikan ajang kangen-kangenan bagi mereka yang sudah lama meninggalkan tanah air.

Mengikuti perjalanan Presiden Soeharto ke luar negeri merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Perjalanan panjang yang menempuh setengah belahan bumi ini sebenamya sangat melelahkan. Namun karena rasa bangga yang tidak ternilai harganya, maka rasa lelah dan penat itu lenyaplah sudah.

 

 

Sumber : PELITA (08/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 467-470.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: