Des 292013
 

Bung Hatta Wafat[1]

Pada tanggal 14 Maret 1980 terjadi hal yang menyedihkan seluruh bangsa: Proklamator Republik Indonesia Bung Hatta meninggal dunia setelah beberapa hari mengindap sakit tua. Disebutkan bahwa beliau, yang dilahirkan di tahun 1902 itu, telah berpesan, ingin dikuburkan di antara rakyat, sekalipun beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Maka saya tetapkan jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, di tengah-tengah rakyat, sehamparan dengan rakyat, dengan upacara kenegaraan. Saya tetapkan tujuh hari dinyatakan sebagai hari berkabung nasional.

Kita memberikan penghormatan kepadanya, sama seperti kepada Bung Karno. Sebab itu, makamnya tersendiri, khusus. Itu menunjukkan penghargaan kita kepadanya, sementara makam Bung Karno juga sudah kita pugar.

Tidak ada yang menentang bahwa Bung Hatta adalah seorang proklamator kemerdekaan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa menghapuskan data sejarah kita ini. Dan proklamasi itu sendiri merupakan klimaks perjuangan yang lama. Dan Bung Hatta turut berjuang untuk kemerdekaan kita ini. Sebab itu, beliau adalah salah seorang perintis kemerdekaan kita.

Setelah proklamasi pun beliau tetap terus berjuang. Dan walaupun di tengah perjalanan hidupnya terjadi perpecahan antara Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta, namun dalam perpecahan itu Bung Hatta masih bertindak konstruktif. Beliau tidak kemudian menentang Bung Karno di muka umum. Beliau memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk melaksanakan idenya. Itu berarti bahwa beliau tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Karena itulah, bagi saya pribadi, maupun bagi rakyat Indonesia, tidak perlu disangsikan tentang kepahlawanan Bung Hatta. Kalau kita menganggap Soekarno sebagai pejuang, yang berjasa dalam perjuangan kita, dalam merintis kemerdekaan kita, maka begitu pulalah halnya dengan Mohammad Hatta.

Begitulah kita menghargai kedua proklamator kita itu yang semasa hidupnya pernah terkenal sebagai Dwi-Tunggal. Seperti halnya kita telah menetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Proklamator di tahun 1986, Begitu pulalah penghargaan itu kita berikan kepada Bung Hatta.

***


[1]        Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH,  diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1982, hlm 344-345.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: