Mei 092017
 

PRESIDEN MINTA:

BUDIDAYA KERANG HIJAU DAN IKAN KERAPU DISEBARLUASKAN

Panenan pertama hasil budidaya kerang hijau di perairan Ancol, Teluk Jakarta, Sabtu lalu, ditandai dengan raungan sirine dan penyerahan beberapa ruas bambu yang sarat dikerubungi kerang hijau.

Begitu Kepala Negara menekan tombol sirine, beberapa nelayan segera menyelam ke dasar laut, mengambil beberapa ruas bambu dan tali plastik yang sarat ditempeli kerang hijau, selanjutnya diserahkan langsung kepada Presiden Soeharto.

Disertai beberapa Menteri Kabinet Pembangunan, Presiden dan Ny. Tien Soeharto didampingi Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo sekitar jam 11.15 setelah merapat di salah satu ponton yang dipersiapkan sebelumnya ditempat pembudidayaan kerang hijau, kemudian melakukan panenan pertama.

Kawasan pembudidayaan kerang yang terletak sekitar 500 meter dari pantai, tujuh bulan yang lalu dipancangi batang-batang bambu dan rentangan tali-tali plastik, untuk mengembangkan kerang hijau.

Dari areal seluas satu hektar dengan bambu yang dipancangkan sekitar 5.200 batang, kini dihasilkan antara 80 – 100 ton kerang hijau atau yang dikenal dengan nama Latin mytilus viridis.

Kepala Negara sangat tertarik dengan usaha ini. Hal itu terlihat dari minat Presiden ketika menerima penjelasan pihak pimpinan BPP (Badan Pelaksana Pembangunan) Ancol, dan pertanyaan-pertanyaan Kepala Negara yang ditujukan kepada para nelayan.

Setelah menerima potongan bambu yang sarat dikerubungi kerang itu, Kepala Negara selanjutnya menyerahkannya kepada Menteri Pertanian Soedarsono. Dalam kesempatan itu pula Presiden dan Ny. Tien Soeharto beberapa kali menjaring ikan kerapu dari dalam sangkarnya. Jenis ikan seperti itu, sekarang ini sedang dicoba dibudidayakan.

Baik Presiden, maupun Ibu Tien Soeharto tampak mencoba menangkap ikan­ikan yang berhasil dijaring itu dengan tangan. Keinginan seperti itu ternyata tidak berhasil karena begitu tersentuh tangan, ikan-ikan itu secepatnya menggelepar sehingga terlepas kembali.

Keberhasilan membudidayakan kerang hijau ini diperlihatkan kepada semua pengunjung yang menyaksikan panenan pertama ketika menyaksikan gunungan kerang hijau yang melekat erat pada bambu yang diangkat dari dasar laut.

Pemandangan taat itu sungguh menakjubkan. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan kerang dengan warna hijau bertumpuk-tumpuk membentuk "gunung hijau". Melihat itu, Presiden, Ny. Tien Soeharto segera mendekat untuk dapat menjamahnya.

Memanfaatkan Laut

Beberapa saat sebelumnya, Presiden dalam sambutannya mengingatkan, perlunya usaha terus-menerus memanfaatkan laut untuk meningkatkan kesejahteraan kita.

‘Sebab, lautan kita yang luas dan kaya raya itu untuk sebagian besar memang belum kita olah. Pendayagunaan lingkungan dan memanfaatkan laut ini sangat penting bagi pengadaan pangan," kata Presiden.

Dalam hubungan itu, Kepala Negara tidak lupa memperingatkan bahaya kurang tersedianya potensi sumber daya alam akibat banyaknya kepentingan hidup manusia yang dapat mengganggu kelestarian alam.

Presiden Soeharto lebih lanjut memperingatkan semuapihak untuk menyadari dan berusaha sungguh-sungguh untuk melestarikan sumber daya alam yang tersedia.

”Cara yang terpuji dan mudah bagi kelestarian sumber daya alam itu adalah dengan usaha untuk tidak merusaknya," kata Presiden.

Kepala Negara dalam kesempatan itu minta kepada Departemen Pertanian untuk bekerjasama dengan kepala daerah mulai menyebarluaskan dan memberikan penyuluhan pembudidayaan kerang hijau danikan kerapu kepada masyarakat nelayan.

Senada dengan ucapan Kepala Negara, Menteri Pertanian Soedarsono menyatakan penghargaannya atas prakarsa Pemda DKI Jakarta memelopori pengembangan budidaya laut. Menurut dia, pembudidayaan laut akan menjamin peningkatan produksi tanpa membahayakan kelestarian sumbernya.

Menurut Menteri, pembudidayaan laut di Indonesia merupakan hal yang baru untuk dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerawanan-kerawanan.

"Budidaya laut menyangkut pemberian hak sebidang laut kepada perorangan atau perusahaan untuk secara eksklusif diusahakan bagi budidaya komoditas perikanan tertentu," katanya.

Mengenai hak eksklusif itu, iaminta untuk tidak juga menghalangi pihak-pihak lain yang akan memanfaatkan lautan dalam kegiatan lainnya, seperti pelayaran, pertambangan, pertahanan/keamanan dan sebagainya.

Pembudidayaan Lainnya

Gubernur Tjokropranolo dalam pada itu menyebutkan, pihaknya saat ini sedang membudidayakan jamur dan belut di samping ikan kerapu. Mengenai pembudidayaan kerang hijau, ia mengatakan sebagai sangat sederhana.

”Hanya dengan cerucuk bambu yang dirakit gelondongan bambu, atau tali plastik yang direntangkan dalam laut," katanya.

Selesai panenan pertama, seluruh pengunjung diberi kesempatan mencicipi pelbagai masakan yang kesemuanya dengan bahan dasar kerang hijau. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (19/10/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 431-433.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: