BPK.2 MASJUMI TELAH BERDJASA UTJAPAN MINTAREDJA SH, TJARA BERPIKIR ORLA

Achmad Buchari

BPK.2 MASJUMI TELAH BERDJASA UTJAPAN MINTAREDJA SH, TJARA BERPIKIR ORLA [1]

 

Djakarta, Abadi

Hadji Ahmad Buchari, bekas Ketua DPP GPH menjatakan bahwa utjapan2 Mintaredja SH, tentang Masjumi dan tokoh2 nasional dalam berbagai pidatonja dibeberapa daerah achir2 ini, adalah utjapan jang keluar dari tjara berfikir Orde Lama. Tokoh2 jang diketuai Mintaredja sebenarnja telah membuktikan djasa2 mereka jang besar kepada bangsa, tanah air dan agama.

Keterangan HA Buchari diberikan dalam mendjawab pertanjaan wartawan Abadi, Rabu kemarin tentang pidato Mintaredja di Surabaja dan jang diulanginja di Tjiandjur Djumat malam Jbl.

Didjelaskan oleh Buchari lebih landjut andaikata pada waktu itu Masjumi berontak terhadap rezim Sukarno dengan PKI-nja jang kufur itu, djustru mesti dinilai sebagai berdjasa.

Tentang pendjelasan Mintaredja terhadap pembela2 Masjumi sebagai main pokrol2an, Buchori menjatakan bahwa hal itu langsung atau tidak langsung berarti djuga ditudjukan kepada Ikatan Hakim Indonesia dan Persatuan Sardjana Hukum. Menganggap pembubaran Masjumi oleh rezim Sukarno setjara konstitusionil dan juridis tidak terbukti, karena itu saja menganggap penilaian Mintaredja SH, Ketua Parmusi angkatan itu sebagai tjeroboh.

Parmusi Bukan Alat Kel. BB

Mendjawab pertanjaan tentang keadaan Parmusi dewasa ini Buchori menjatakan dgn tandas bahwa Parmusi Mintaredja bukanlah alat perdjoangan keluarga Bulan Bintang, Partai ini tidak lagi mentjerminkan Aspirasi politik Ummat Bulan Bintang sebagai kelandjutan bahwa misi Masjumi itu wadah Masjumi. Padahal setiara historis dan psychologis hal ini dapat dipertanggung djawabkan sepenuhnja.

Berhubung dengan itu dan ditambah lagi dengan UU pemilu dan pelaksanaannja jg tidak demokratis menurut dugaan Buchori; akan banjak keluarga Bulan Bintang jg tidak menggunakan hak pilihnja dalam pemilu jad.

Mengenai ketjaman Mintaredja terhadap tokoh2 nasional yang dikatakannja gagal, Buchori memperingatkan bahwa sedjarah telah mentjatat prestasi2 tokoh itu dalam perdjoangan agama dan bangsa.

M. Natsir dengan mosi integralnja telah menjelamatkan kesatuan bangsa dan negara dari politik devide et imperal kolonial. Bahkan dalam djaman Republik Indonesia Serikat (RIS); Sjafrudin Prawiranegara SH. telah memimpin DPR disaat Sukarno ditawan oleh Belanda; Dr. Sukiman adalah tokoh pemerasan Ummat Islam dalam zaman perang kemerdekaan RI serta Moh Roem adalah seorang diplomat RI jang telah berhasil mengembalikan kedaulatan negara kepada kita.

Berdasarkan fakta2, kata Buchori tidak mungkin seorang Mintaredja sadja menghapuskan sedjarah, semaunja sendiri.

Pembawa missi pihak lain?

Lebih djauh Buchori menjatakan bahwa ia chawatir muntjulnja Mintaredja sebagai Ketua Parmusi-Mit dalam saat2 sekarang hanja utk membawakan missi fihak2 lain jang sebenarnja bentji kepada kebenaran dan kedjajaan Ummat Islam di Indonesia.

Tanggapan Jusuf Hasjim

Sebagai seorang muslim saja anggap Mintaredja, beberapa tokoh2 Islam dan nasionalis djelas menundjukkan djiwa ketjil jang tidak mau menghormati pemimpin2 terdahulu betapapun mungkin mereka itu ada membuat kekurangan sebagaimana lazimnja manusia. semestinja tau bahwa pemimpinan memiliki satu masa rantjangan pandjang, tdk mungkin Mintaredja dikenal sebagai pemimpin kalau tidak ada rintisan kempimpinan sebelumnja” demikian Sedjen NU, M. Jusuf Hasjim tentang pernjataan Ketua Parmusi Mintaredja SH, beberapa hari jang lalu mengenai diri beberapa pemimpin Islam dan Nasionalnja.

Selandjutnja Sekdjen NU itu mengatakan Pemimpin jang ditjela oleh Mintaredja itu adalah pemimpin jang mempunjai tenggang teguh. Bahwa ada kekurangan2nja itu memang perlu mestinja pemimpin Parmusi itu dapat beladjar dari mereka bagaimana konsisten dengan prinsip2 sebagaimana diketahui Ketua Parmusi Mintaredja SH telah mentjela beberapa Pemimpin seperti M. Natsir, K.H. Wahid Hasjim, Sjafrudin Prawiranegara Sidik, Sjahrir dll. (DTS)

Sumber: ABADI (25/03/1971)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 619-620.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.