BI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN RI 1986 NAIK

BI DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN RI 1986 NAIK

 

 

Defisit transaksi berjalan Indonesia tahun 1986 naik menjadi 4,06 miliar dolar AS dibanding 1985 yang tercatat 1,95 miliar dolar AS. sebagai akibat merosotnya harga minyak bumi di pasaran internasional.

Hal itu dikemukakan Gubernur Bank Indonesia Dr. Arifin M. Siregar dalam sambutannya pada acara jamuan makan malam Perbankan di gedung Bank Indonesia, Rabu malam.

Dikatakan, defisit transaksi berjalan bisa lebih besar lagi apabila pemerintah tidak melaksanakan tindakan devaluasi 12 September 1986.

Gubernur BI mengatakan, selama tahun 1986 arus masuk melalui pinjaman lunak negara-negara anggota IGGI, pinjaman komersial maupun modal swasta cukup besar.

“Pemasukan modal ini dapat membiayai seluruh transaksi berjalan, pembayaran kembali pinjaman luar negeri dan menutup pembelian devisa besar-besaran (rush) pada Desember 1986 oleh masyarakat, sehingga neraca pembayaran secara keseluruhan defisit sekitar 544 juta dolar AS.

Dengan bertambah besarnya defisit neraca pembayaran jumlah cadangan devisa yang ada di Bank Indonesia berkurang dari 5.846 juta dolar AS di akhir Desember 1985 menjadi 5.302 juta dolar AS, akhir Desember 1986.

“Jika diperhitungkan devisa yang ada pada bank-bank devisa, maka pada akhir Desember 1986 seluruh cadangan yang dimiliki mencapai sekitar 10,1 miliar dolar AS,” katanya.

Mengenai pembelian dolar AS pada Desember 1986 Gubernur BI, Arifin Siregar mengatakan, rush ini antara lain karena adanya kekhawatiran masyarakat seakan-akan pemerintah akan mengambil langkah drastis di bidang moneter.

Hal ini terutama dikaitkan dengan tidak menentunya harga minyak bumi, khususnya sebelum kesepakatan OPEC di capai.

Tetapi setelah adanya penjelasan Presiden Soeharto di depan DPR-RI ketika mengantar Nota Keuangan dan RAPBN 1987/1988, kegiatan spekulatif berangsur­-angsur mereda tercermin dengan merosotnya transaksi di Bursa Valuta Asing (BVA) Bank Indonesia.

Meskipun jumlah cadangan devisa yang dimiliki cukup memadai, Bank Indonesia tetap menjaga agar cadangan devisa itu tidak berkurang terlalu besar.

“Pengaturan jumlah cadangan devisa antara lain melalui penggunaan pinjaman siaga dari bank-bank internasional yang pada akhir Desember 1986 tercatat 2,3 miliar dolar AS,” tutur Arifin Siregar.

Perkembangan moneter dalam tahun 1986 ditandai oleh kesulitan neraca pembayaran. Namun dipihak lain usaha perbankan untuk membantu meningkatkan kegiatan dunia usaha cukup besar. Hal ini terbukti dengan meningkatnya kredit yang disalurkan perbankan.

Akhir Desember 1985 kredit yang disalurkan Rp 22,2 triliun, pada akhir Desember 1986 menurut angka sementara, meningkat menjadi Rp 26, 1 triliun. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (14/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 367-368.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: