Okt 092013
 

Bertugas di Sulawesi Selatan [1]

 

Pada tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan. Begitu mereka menyebutnya, sementara bagi kita adalah pengakuan kedaulatan. Wakil Mahkota Belanda yang baru menyerahkan kedaulatan itu kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Jenderal Mayor F. Mallinger menyerahkannya kepada Kolonel Gatot Soebroto.

Waktu Letnan Kolonel Achmad Junus Mokoginta menerima penyerahan kekuasaan di Makassar, ia hanya dengan beherapa anggota staf dan sepasukan Polisi Militer. Kemudian anggota-anggota KNIL, yang bersedia, digabungkan ke dalam APRIS, termasuk pasukan Kapten Andi Azis pada tanggal 30 Maret 1950.

Kekurangan kekuatan TNI di Sulawesi Selatan waktu itu tentunya harus segera ditambah. Pimpinan TNI segera menetapkan akan mengirimkan Batalyon Worang dari Brigade XVIII/Jawa Timur ke Makassar dengan kapal “Waikelo”. Tetapi belum juga Batalyon Worang itu sampai di Makassar, keributan terjadi di wilayah itu, di tengah suasana pertentangan yang masih hidup antara pihak unitaris dan federalis, antara yang menginginkan Negara Kesatuan RI dan Negara RIS.

Memang suasana politik seperti itu masih hidup di pelbagai termpat yang pernah diduduki oleh tentara Belanda. Sementara sebagian kekuatan mengadakan rapat-rapat untuk menunjukkan keinginan berdirinya “negara-negara bagian”, bagian lainnya menentangnya dengan pelbagai pernyataan dan demonstrasi.

Pada hari Rabu tanggal 5 April 1950, Letkol. Mokoginta dipaksa “datang” ke asrama Kapten Andi Azis. Ternyata ia ditangkap. Sementara itu Kompi Polisi Militer di Makassar sudah dilucuti oleh bekas-bekas KNIL bersama KL Menjelang tengah hari, seluruh Makassar dikuasai oleh Andi Azis dan kapten ini lalu mengirimkan ultimatum kepada Pemerintah RIS, supaya tidak mendaratkan pasukan TNI di Sulawesi Selatan. Kapten Andi Azis memperkuat pasukannya dengan persenjataan berat dan sebuah pembom untuk membuktikan kesungguhannya.

Pemerintah di Jakarta pada mulanya berusaha menyelesaikan “Peristiwa Andi Azis” itu dengan menginsafkan Andi Azis dan memanggilnya ke Jakarta. Tetapi sekalipun kemudian Andi Azis berjanji akan memenuhi panggilan itu, ternyata ia datang terlambat, melewati batas waktu yang sudah diumumkan. Akibatnya ia dinyatakan sebagai pemberontak. Tindakan Kapten Andi Azis itu dianggap oleh Kementerian Pertahanan dan Pemerintah RIS sebagai tindakan yang melanggar hukum dan disiplin tentara, serta menghina sumpah tentara. Presiden Soekarno mengumumkan lewat radio tentang pemberontakan Andi Azis itu.

Lalu Menteri Pertahanan membentuk sebuah pasukan ekspedisi untuk menumpas pemberontakan Andi Azis itu pada tanggal 7 April 1950. Pasukan ekspedisi itu dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang yang belum lama memimpin Divisi di Sumatera Utara, dengan kekuatan satu divisi yang terdiri atas Brigade XVIII/Divisi I Jawa Timur yang dipimpin oleh Letkol. Suprapto Sukowati dan Letkol. Warrouw, Brigade I, yaitu Brigade Mataram/Divisi III Jawa Tengah yang saya pimpin, Batalyon I Brigade XIV/Siliwangi Jawa Barat yang dipimpin oleh Kapten Bohar Ardikusuma dan satu batalyon seberang dari Jawa Timur yang dipimpin oleh Mayor Andi Matalatta.

Pada tanggal 8 April 1950 saya sebagai Komandan Brigade Mataram/Divisi III Diponegoro menerima perintah untuk mempersiapkan satu staf brigade mobil dan dua batalyon penggempur. Semenjak Aksi Militer Belanda ke-2, Brigade X yang saya pimpin itu bernama “Brigade Mataram” dengan panji yang berlukiskan seekor burung garuda berwarna kuning dan bertuliskan “Mataram”. Sebab itu, biasa pula orang awam menyebut brigade ini “Brigade Garuda Mataram”.

Kedua batalyon penggempur yang saya tetapkan ialah Batalyon Kresno di bawah pimpinan Darjatmo dan Batalyon Seno di bawah pimpinan Mayor Sudjono. Pada waktu itu, sebenarnya Brigade Mataram sedang mengadakan konsolidasi ke dalam, seperti halnya juga dengan kesatuan-kesatuan lainnya. Waktu untuk persiapan hanya lima hari. Kemudian kami harus terus berangkat.

Perlengkapan alat senjata yang dibawa berupa pistol dan jungle rifle bagi para perwira dan para pejabat komandan seksi ke atas; senapan sten dan bren untuk regu ringan, selanjutnya  mortir ringan bagi regu tertentu. Yang paling berat hanyalah mitralyur penangkis serangan udara ukuran 12,7 mm.

Sementara itu meskipun terjadi pemberontakan separatis di Indonesia Timur, pada tanggal 8 April 1950 Dewan Perwakilan Sementara RIS memutuskan untuk memilih Negara Kesatuan RI, negara yang dicita-citakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di tengah suasana seperti itu kami harus berangkat ke Sulawesi Selatan. Dan perubahan RIS menjadi RI kembali itu terjadi sewaktu saya masih berada di Makassar, yakni pada tanggal 17 Agustus 1950.

Tanggal 14 April 1950 bersiaplah Staf Brigade Mataram di halaman Markas untuk memberikan laporan, bahwa semua telah siap untuk berangkat. Lalu kami meninggalkan Yogya, meninggalkan keluarga masing-masing dengan penuh haru dan menyongsong nasib yang masih dipertanyakan, demi membela kemerdekaan yang sudah kita dapatkan bersama.

Dalam perjalanan, mulai dari Bedono terus sampai Semarang, terlihat bendera Belanda tiga warna, sebagai tanda di tempat-tempat itu masih terdapat KL dan KNIL yang sedang menunggu status lebih lanjut. Begitu suasana di tengah perjalanan. Insiden tidak terjadi. Kami pegang teguh disiplin.

Tanggal 17 April 1950 di Semarang Letkol. Sentot Iskandardinata, Kepala Staf pasukan ekspedisi itu, menyampaikan perintah operasi kepada saya, yakni Brigade Mataram harus mendarat di Bontain. Kemudian saya harus menguasai kota. Markas Brigade tetap di Bontain. Kemudian saya harus mengirimkan satu batalyon ke Makassar. Begitu perintah pertama.

Keesokan harinya Kolonel Kawilarang disertai Kolonel Gatot Soebroto yang saya dampingi memeriksa Batalyon Kresno dan Batalyon Seno. Ternyata kedua batalyon kami itu yang paling dulu siap di antara semua yang akan dikirimkan.

Saya sendiri menentukan formasi untuk keperluan ekspedisi itu. Dasar pertimbangan waktu itu adalah susunan yang praktis, mudah dimengerti oleh anak buah, mencukupi kebutuhan dengan tenaga sesedikit mungkin, artinya seefisien mungkin, dan persenjataan ringan, yang ada saja.

Setelah selesai persiapan, pada tanggal 19 April 1950 barang-barang anggota Brigade Mataram yang ikut serta dalam ekspedisi sudah ada di atas kapal “Waiwerang”. Keesokan harinya, tanggal 20 April seluruh staf dan anggota brigade saya telah naik ke atas kapal “Waiwerang” itu, siap melaksanakan operasi. Tanggal 21 April, jam 18.00 sore berangkatlah kami menuju sasaran, dengan kode operasi “Macan” dan sasaran kami disebut “Kelapa”.

Pada tanggal 24 April, sedikit lewat setengah dua belas malam, dalam briefing di kapal korvet “Hang Tuah”, waktu berada di tempat rendezvous di pulau De Bril, Kolonel Kawilarang mengadakan perubahan rencana operasi. ltu disebabkan oleh karena Andi Azis sudah menyerah kepada Pemerintah di Jakarta dan Batalyon Worang telah berhasil mendarat di Jeneponto, serta kemudian menguasai Makassar. Maka lalu brigade kami mendarat langsung di Makassar. Saya ditetapkan menjadi Komandan Sektor Makassar yang meliputi kota Makassar dan daerah pantai Jeneponto sampai Gunung Lompobattang, ke utara lurus sampai timur Pancana, membelok, ke barat hingga selatan Pancana. Kota Makassar ditetapkan berada di bawah Komando Militer Kota (KMK).

Pasukan-pasukan saya mendarat dengan selamat pada tanggal 26 April 1950. Rakyat menyambut kedatangan kami dengan hangat. Patut saja begitu, karena sebelumnya mereka mendapat tekanan hebat dan mengalami tindakan kejam dari orang-orang KNIL/KL itu.

Sementara itu Kolonel Kawilarang sudah diangkat menjadi Panglima T & T VII/Indonesia Timur menggantikan Letkol. A.J. Mokoginta. Pasukan-pasukan bekas KNIL dan KL itu masih saja tidak senang dengan kedatangan kami, sekalipun Andi Azis sudah menyerah. Maka terjadi beberapa insiden yang mengakibatkan korban jiwa.

Waktu itu, di samping soal KNIL/KL, masih ada masalah keamanan akibat perbuatan lasykar Pasukan Gerilya yang tidak mau tunduk kepada APRIS, dan belum jelas benar bagi kami apa tujuan mereka yang sesungguhnya.

*

Di tengah suasana penumpasan pemberontakan itu, kami berkenalan dengan keluarga Habibie yang tinggal di seberang jalan, di depan Brigade Mataram. Hal ini patut saya kenang. Di rumah keluarga Habibie itu terdapat suasana yang membuat anggota Staf Brigade kami kerasan. Ibu Habibie berasal dari Yogya dan masih fasih berbahasa Jawa. Obrolannya dalam bahasa Jawa merupakan hiburan tersendiri bagi anggota staf kami yang jauh dari keluarga.

Pada suatu hari, di tengah malam, sewaktu anggota Staf Brigade masih tidur nyenyak, datanglah dua orang anak Habibie di asrama dengan tangis yang mengharukan. Mereka memberi tahu, bahwa ayahnya sakit keras. Dokter Irsan segera memberi pertolongan dan saya menemaninya di sampingnya. Kita berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Bapak Habibie kena serangan jantung pada saat menjalankan sembahyang Isya dan tidak tertolong lagi. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di depan saya, Dokter Irsan, dan keluarganya. Saya berkesempatan menutupkan matanya sambil memohonkan ampun pada Tuhan Yang Maha Esa.

Waktu itu suasana duka meliputi keluarga Habibie. Ibu Habibie sedang mengandung dan seorang anak, B.J. Habibie, yang kelak mengambil peranan penting, baru belasan tahun saja umurnya. Keluarga Brigade Mataram turut berduka cita dan membantu penguburan Bapak Habibie.

Hubungan anggota Brigade Mataram bertambah erat lagi dengan keluarga Habibie disebabkan oleh adanya seorang perwira Brigade Mataram yang menjalin cinta dengan seorang putri Habibie. Kapten Subono kawin dengan kakak B.J. Habibie dan dengan ini, saya, sebagai Komandan Brigade, “besanan” dengan lbu Habibie.

*

Sebuah insiden terjadi pada tanggal 14 Mei 1950 di Pasar Sambung Jawa. Anggota satuan Siliwangi bertengkar dengan anggota KNIL/KL. Polisi Militer APRIS dan MP Belanda menengahi pertengkaran tadi. Tetapi keesokan harinya terjadi lagi insiden serupa di Kampung Boom. Pihak KNIL/KL tidak dapat menahan nafsu dan mereka melepaskan tembakan dari atas truk. Satuan Siliwangi segera membalasnya. Maka suasana di Kota Makassar menjadi hangat. Saya berusaha menekan api yang mulai menyala itu. Maka kelihatan kedua belah pihak segera kembali ke kesatuannya masing-masing. Tetapi rupanya itu masih untuk mempersiapkan kekuatan.

Saya sebagai Komandan Militer Kota memerintahkan siaga umum. Selanjutnya saya usahakan supaya semua pasukan tidak bergerak dan tidak melepaskan tembakan. Tetapi ternyata pertentangan tidak dapat dihindarkan. Tanggal 16 Mei 1950 pertempuran hebat terjadi. Segera saya perintahkan tiap sub sektor Makassar secara masing-masing mengirimkan pasukan satu kompi ke dalam kota. Maka pertempuran dapat dihentikan pada tanggal 18 Mei 1950. Tetapi kejadian ini telah menyebabkan gugurnya sejumlah anak buah saya dan demikian pula dari pihak KNIL/KL.

Lalu diadakan perundingan antara Komandan APRIS dan KNIL/ KL. Hasil perundingan itu adalah MP Belanda dan PM APRIS akan menjaga daerah KNIL/KL. Anggota KNIL/KL tidak boleh keluar dari daerahnya dan anggota TNI tidak boleh masuk daerah KNIL/KL.

Patroli bersama-sama diadakan di dalam kota. Garis demarkasi telah ditetapkan, tetapi rasa dendam ternyata tidak dapat dipadamkan dengan jalan begitu saja.

Untuk sementara memang tenang, sekalipun tetap tegang. Tetapi insiden kembali meledak setelah pada tanggal 1 Agustus 1950 seorang anggota “Q” ko. TTIT-TNI, Letnan Yan Ekel, dari Kepulauan Sunda Kecil yang sedang cuti dan tidak mengetahui situasi di Kota Makassar, masuk di daerah KNIL/KL. Tanpa ditanya ia langsung ditembak mati. Maka meledaklah api permusuhan yang memang masih terpendam itu. Sementara itu, jenazah Letnan Yan Ekel dirawat oleh tunangan dan calon mertuanya dan dimakamkan seperti semestinya.

Tanggal 5 Agustus 1950 Markas Brigade Mataram di Klapperlaan diserbu KNIL/KL. Pasukan penyerbu mempergunakan tank, panser dan bren-carrier. Suara tembakan berurutan di seluruh kota. Gemuruh, bising bersuitan suara peluru di atas kepala. Pada waktu Markas Brigade Mataram diserang, saya baru satu jam tiba dari Jakarta, dipanggil MBAD untuk membicarakan rencana MBAD yang akan mengirimkan Kahar Muzakkar ke Makassar. Saya menyarankan agar rencana MBAD itu ditunda, karena saya tahu watak Kahar Muzakar sewaktu di Yogya. Sukar diatur. Bahkan ia pernah saya ancam akan dilucuti.

Komando pihak musuh terdengar dipegang oleh seorang opsir KL. Dalam Komando itu, disebut-sebut nama Mayor Maastricht dan Overste Tijman.

Saya perintahkan serangan artileri dari Tello. Bahkan korvet “Hang Tuah” ikut menggempur posisi KNIL/KL dengan tembakan meriamnya. Lawan mencoba bergerak, tetapi serangan musuh itu dapat kami patahkan. Mereka segera kembali ke asrama mereka. Serangan balasan dari pihak kita kami lakukan pada tanggal 6 Agustus. Pertempuran yang paling hebat terjadi. Pihak musuh cuma bertahan dan berlindung di tempatnya. Esoknya, tanggal 7 Agustus, KNIL/KL mencoba menyerang lagi. Tetapi gerakan mereka itu kami patahkan juga. Segera saya perintahkan melakukan serangan umum.

Setelah mereka terdesak, rupanya pihak KNIL/KL itu minta bantuan Pemerintah Pusat di Jakarta untuk mengakhiri pertempuran. Tanggal 8 Agustus tembak-menembak berakhir. Dan istimewanya pihak Belanda menawarkan perundingan minta damai. Saya curiga terhadap mereka. Berdasarkan pengalaman yang sudah lewat, saya tidak begitu saja percaya pada ajakan damai itu, saya tolak kecuali kalau semua anggota KNIL/Kl mau meninggalkan Makassar dengan menyerahkan semua peralatan dan senjata mereka.

Kolonel Kawilarang membawa kabar tentang kesungguhan maksud orang-orang KNIL/KL untuk meminta damai itu. Saya terangkan pikiran saya. Maka kemudian rundingan dilakukan antara pihak kita dan pihak KNIL/KL itu.

Tawar-menawar terjadi. Perundingan selanjutnya dilakukan oleh kedua belah pihak di Hotel City Makassar. Pihak kita dipimpin oleh Kolonel Kawilarang dan pihak lawan oleh Jenderal Mayor Scheffelaar.

Hasil perundingan itu menetapkan semua anggota KNIL/KL keluar dari Makassar dengan meninggalkan semua peralatan dan perlengkapan mereka, sesuai dengan keinginan saya. Tanggal 9 Agustus, pukul 15.30 mulai dilakukan penyerahan kendaraan berlapis baja, seperti panser, bren-carrier dan scoutcar dari KL/KNIL kepada APRIS. Wakil UNCI yang menengahi perundingan menyatakan kegembiraannya.

Mulai tanggal 14 Agustus sampai dengan tanggal 22 Agustus 1950 dilaksanakan pengangkutan anggota-anggota KNIL/KL itu, keluar dari Makassar tanpa senjata dan perlengkapan perang lainnya. Dengan keluarnya anggota-anggota KNIL dan KL tadi pemberontakan Andi Azis pun selesai. Dan Andi Azis dijatuhi hukuman 14 tahun penjara oleh pengadilan militer di Yogyakarta, pada tahun 1953.

Dalam pada itu, saya mendengar bahwa Markas Angkatan Darat jadi mengirim Kahar Muzakkar ke Makassar. Saya tak habis pikir, mengapa pula dia jadi dikirim? Saya mengenal wataknya dengan cukup baik.

Boleh dikata, saya menentang sengit keputusan MBAD. Kahar Muzakkar tidak pernah memenuhi janjinya. Dia akan menimbulkan lebih banyak lagi kekacauan di daerah Sulawesi Selatan ini. Dan terkaan saya itu ternyata benar. Kahar Muzakkar menimbulkan kekacauan yang panjang.

Akhir September 1950 “Brigade Mataram” kembali ke Jawa Tengah. Ternyata 17 orang dari brigade kami gugur sebagai pahlawan bangsa. Saya menundukkan kepala, berdoa bagi mereka. Semoga pahlawan-pahlawan kita itu diterima di sisi Tuhan. Saya kembali ke Yogya dan berada lagi di tengah keluarga.

***



[1]     Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal 74-81.

 Posted by at 08:00

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: