Feb 202017
 

BERTEMU LURAH DAN TUKANG SOTO ASAL "JAWA” DI SABAH

Oleh: Parni Hadi

Ia berdiri di ujung barisan, tepat di bawah tangga pesawat ketika Presiden Soeharto dan rombongan akan bertolak pulang ke Jakarta, setelah kunjungannya selama dua hari di Labuan, Sabah, Malaysia Timur, Minggu lalu.

"lnsyaAllah tahun 1980 saya akan pulang ke Indonesia", kata lelaki berbaju batikvdengan kopiah hitam di kepalanya itu.

Namanya Haji Andita dan umurnya 57 tahun, 35 tahun diantaranya ia habiskan di Pulau Labuan.

Haji Andita yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat ini, berada di Labuan sejak tahun 1943. Ia adalah salah seorang diantara 400 orang Romusha asal Indonesia yang dibawa Tentara Jepang dari Singapura entah menuju kemana.

Nasib menentukan ia harus tinggal di Labuan karena kira2 jarak satu jam perjalanan dari Labuan, kapal yang membawanya bersama 2.000 orang pecah. Ia dan sebagian besar penumpang kapal itu dapat diselamatkan oleh sebuah kapal dari Labuan dan jadilah ia menetap di pulau yang berukuran 37 mil persegi itu, beranak pinak sampai sekarang.

"Saya sudah kerasaan tinggal di sini", kata Haji Andita yang telah mempersunting gadis Labuan sebagai isterinya dan telah memberinya tujuh orang anak itu. Tiga dari tujuh orang anaknya itu sekarang telah bekerja.

"Tidak ingin pulang melihat kampung kelahiran?", tanya saya. "Ya, InsyaAllah tahun 1980 nanti, "jawabnya sambil menjelaskan bahwa surat menyurat dengan sanak saudara yang tinggal di Ciamis sampai sekarang masih berlangsung terus.

Ketika ditanya apakah mencari rejeki di Labuan lebih mudah, ia menjawab sambil tersenyum: "Lumayanlah". Ia telah menjawab apa adanya. Buktinya? Dengan kedudukannya sebagai Lurah Desa Nagalang Kropang, ia telah bisa menunaikan rukun lslamnya yang kelima. Disamping menjadi lurah, keluarga Haji Andita berjualan barang kebutuhan rumah tangga secara kecil2an.

"Kapan mau menunaikan ibadah haji untuk ke dua kalinya?" Atas pertanyaan ini, ia menjawab sambil tertawa :”Naik haji yang kedua kalinya ke Indonesia itulah".

Haji Andita mengatakan, bahwa orang2 asal "Jawa" (Indonesia) seangkatannya tahun 1943 tinggal beberapa orang saja yang masih hidup di Labuan. Sebagian besar telah meninggal karena sakit dan usia tua.

"Matur Nuwun", Tak Usah Bayar

Beberapa rekan wartawan lain yang kebetulan lapar segera memasuki warung soto di depan restoran Cina di dekat pelabuhan. Karena uang disaku tinggal lima ringgit (dollar Malaysia) saja, mereka tidak berani minta tambah soto walaupun dalam hati sangat ingin karena soto itu rasanya memang enak.

Setelah seorang dari mereka merogoh kantong mau membayar, si tukang soto berkata dalam bahasa Jawa yang halus :

"Maturnuwun, mboten sisah mbayar" (Terima kasih, tidakusah membayar).

Situkang soto bernama Paijan. Asalnya dari Yogya. Ia senasib dengan Haji Andita terbawa Bala Tentara Jepang ke Labuhan sebagai Romusha 35 tahun yang lain. Umurnya juga sudah diatas 50 tahun.

Ia sedikit lebih beruntung dari Haji Andita karena pada tahun 1970 yang lalu ia sudah bisa pulang ke Yogya melihat kampung kelahirannya. Disamping itu, salah seorang anaknya kini bersekolah di Kuala Lumpur dengan beasiswa dari pemerintah Kerajaan Malaysia.

Ia menyatakan sangat gembira bisa melihat Presiden Soeharto.

"Karena belum tentu kalau di Jawa bisa melihatnya begitu dekat dan bersalaman dengan Bapak Presiden", katanya polos.

Kegembiraan orang2 asal Indonesia dan keluarganya dapat bersalaman dengan Presiden itu antara lain tercermin dari kata2 spontan yang mereka ucapkan ketika mereka bersalaman, seperti :

"Saya dari Ciamis pak, Kulo saking Yogya Pak atau Kulo saking Mediyun Pak" dan sebagainya.

Main "Ketoprak"

Disuguhkannya empat tarian asal Indonesia dari sembilan tarian pada acara kesenian untuk Presiden Soeharto di Labuan, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kebudayaan Indonesia dalam hal ini Jawa pada kebudayaan setempat.

Ke-empat tarian itu adalah tari Kelana Topeng, tari Kupu2, tari Siraman Mrih Jaya Mukti dan musik angklung, Tarian itu diiringi dengan gamelan, sedangkan angklung itu antara lain membawakan lagu "Suwe ora jamu" (Lama tidak minum jamu yang arti kiasan-nya adalah lama tidak bertemu).

Pakaian para penabuh gamelan itupun belurn kehilangan ciri khas Jawanya, yakni "beskap" Gas tutup) lurik, "blangkon" (tutup kepala) dan "bebed" (kain panjang). Suasana pertunjukan persis seperti di sebuah kampung di Jawa. Satu2nya kekecualian mungkin hanyalah kurang pasnya irama gamelan saja karena tidak lengkapnya alat2 musik.

"Kami dulu main ketoprak (sandiwara tradisional), tetapi sekarang sebagian besar pemainnya sudah meninggal", kata Haji Andita menjelaskan.

Adanya tari2an asal Indonesia itu merupakan suatu pengikat bathin yang kuat antara orang2 asal Indonesia yang sekarang sudah menjadi warga negara Malaysia itu dengan tanah tumpah darahnya Indonesia.

Dalam rangka menumbuhkan semangat ASEAN, lebih2 bagi bangsa serumpun seperti Indonesia dan Malaysia, alat pengikat itu kiranya perlu untuk dihidupkan terus.

Diperoleh keterangan di Sabah sekarang ini terdapat kurang lebih 30.000 warganegara Malaysia yang berasal dari Indonesia, 17.000 diantaranya tinggal di Kota Kinabalu. Mereka kebanyakan bekerja pada perusahaan penebangan hutan. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (23/05/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 799-801.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: