Feb 102017
 

BELUM MELIHAT URGENSI KTT ASEAN TAHUN INI

Soeharto – Husein Onn selama 3 1/2 jam

Presiden Soeharto dalam kunjungan tidak resmi 22 jam di Labuan – Sabah ­ Malaysia telah mengadakan pertemuan 3 ½ jam dengan PM Malaysia Husein Onn dalam rangka konsultasi teratur antara negara tetangga untuk membina dan memperkokoh saling pengertian dan hubungan persahabatan yang lebih erat, baik secara bilateral maupun dalam hubungan dengan ASEAN.

Menteri Sekretaris Negara Soedharmono dalam keterangannya kepada pers di pesawat terbang Kepresidenan “Pangkalan Brandan” ketika singgah di Balikpapan kemarin menyatakan kedua Kepala Pemerintahan telah berhasil membina saling pengertian dan kesamaan sikap dalam pertemuan tersebut.

Disamping masalah dalam negeri masing2 juga diadakan tukar pandangan mengenai masalah regional terutama perkembangan ASEAN setelah KTT di Bali dan Kualalumpur, perkembangan dialog antara ASEAN dengan negara2 non ASEAN.

Semuanya itu merupakan bahan penting bagi pengembangan pelaksanaan hubungan kerjasama baik bilateral maupun dalam rangka ASEAN.

Dalam hubungan ini baik Presiden Soeharto maupun Onn belum melihat urgensinya untuk diadakan KTT ASEAN dalam tahun ini.

Dalam pembicaraan yang berlangsung selama 90 menit pada Kamis pagi itu menurut Menteri Soedharmono juga disinggung masalah normalisasi hubungan RI – RRC, perkembangan Indochina, gerakan Moro di Pilipina Selatan danjuga soal kemungkinan penggunaan kapal tanker LNG Malaysia oleh Indonesia.

Ditanya apakah dengan persamaan pandangan dan sikap tersebut dicapai suatu komitmen politik yang nyata, Menteri Soedharmono katakan antara lain adalah usaha untuk lebih memperkokoh dan memberi isi yang lebih nyata pada kerjasama ASEAN yang memungkinkan masing2 negara meningkatkan ketahanan nasional masing2.

Presiden Soeharto dalam pertemuan itu telah menjelaskan keadaan Indonesia, terutama setelah berlangsungnya Pemilu dan Sidang Umum MPR, sedang PM Husein Onn memberi keterangan mengenai situasi negerinya.

Sengketa Vietnam – Kamboja

Menurut Menteri – Soedharmono, kedua Kepala Pemerintahan menyatakan kegembiraannya karena negara2 Indochina semakin memberikan pengertian terhadap maksud dan tujuan organisasi ASEAN. Dalam hubungan ini kedua Kepala Pemerintahan mengemukakan keinginannya untuk bersahabat baik dengan negara2 tersebut.

Sedang mengenai sengketa Vietnam – Kamboja dikatakan telah mendapat perhatian serius Presiden Soeharto dan PM Husein Onn, sebab hila kedua negara itu terus berselisih pasti mempengaruhi stabilitas di wilayah ini.

Diharapkan sengketa antara dua negara yang bertetangga itu dapat segera diselesaikan secara damai sehingga tidak mengganggu stabilitas wilayah.

Pembinaan Normalisasi Hubungan

Presiden Soeharto juga menjelaskan kepada Kepala Pemerintahan Malaysia itu mengenai normalisasi hubungan RI – RRC yang kini masih dalam taraf persiapan pembinaan, baik persiapan pembinaan suasana di masing2 negara maupun dalam forum internasional.

Kepada PM Husein Onn yang menanyakan masalah normalisasi hubungan RI – RRC itu, Presiden Soeharto katakan apabila waktunya telah datang, dan masing2 pihak telah siap untuk melangsungkan normalisasi, pasti akan dilaksanakan.

Menurut Menteri Soedharmono, cepat atau lambatnya normalisasi hubungan tersebut tergantung darihasil persiapan pembinaan itu. Kegiatan2 swasta seperti yang dilakukan oleh KADIN maupun missi bulutangkis Indonesia yang mengadakan kunjungan ke RRC baru2 ini dikatakan bisa dimengertikan salah satu bentuk persiapan pembinaan itu.

Brunei ditentukan Rakyatnya

Menteri Soedharmono menyatakan dalam pertemuan itu juga disinggung masalah negara protektorat Inggris, Brunei, yang kaya minyak dan terletak 70 km dari Labuan. Baik Indonesia maupun Malaysia dalam masalah ini telah memiliki pegangan, yaitu resolusi PBB yang menyatakan keadaan di sana ditentukan oleh rakyat Brunei sendiri.

PM Hussein Onn dalam menjawab pertanyaan pers setelah pertemuan itu mengatakan tidak ada keinginan Malaysia untuk mencaplok Brunei, dan pembicaraannya dengan Presiden Soeharto mengenai Brunei adalah dalam kaitannya dengan keamanan regional dan situasi politik.

Sedang mengenai masalah Moro National Liberation Front (MNLF) di Philipina Selatan, Menteri Soedharmono mengemukakan kedua Kepala Pemerintahan tetap berpegang pada resolusi Konferensi Negara2 Islam di Dakar yang telah membentuk Komite Khusus untuk menangani masalah tersebut.

Diharapkan perundingan antara Pemerintah Pilipina dengan gerakan tersebut terus dilanjutkan dalam rangka negara kesatuan Pilipina dan pemberian perhatian yang lebih besar dari Pemerintah terhadap gerakan tersebut. Perundingan diharapkan dapat berlangsung tanpa adanya pertikaian.

Mengenai kapal tanker LNG (gas alam cair) yang dipesan Malaysia, Menteri Soedharmono membenarkan dalam pertemuan itu telah ditawarkan lagi kepada Indonesia untuk menyewanya.

Tawaran tersebut diutarakan karena kapal tanker itu sudah terlanjur di pesan oleh Malaysia dan akan selesai pembuatannya pada 1979, sedang proyek LNG Malaysia di Bintuhi (Sarawak) yang dirancang selesai 1980 ternyata mengalami keterlambatan penyelesaiannya hingga 1983.

Dalam hubungan ini Indonesia akan mempertimbangkan tawaran itu karena di samping menyangkut masalah teknis, juga tergantung atas persetujuan Indonesia dengan konsumen LNG.

Bila persetujuan tersebut memungkinkan Indonesia gunakan tanker Malaysia, dan tidak ada keharusan pengangkutan itu gunakan kapal tanker dari negara konsumen, maka Indonesia dengan senang akan gunakan tanker dari Malaysia.

Indonesia belum bisa mengambil keputusan sekarang karena harus dibicarakan dahulu dengan konsumen LNG Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut juga disepakati kerjasama kedua negara di bidang sosial, budaya dan tenaga kerja untuk menjaga kepentingan masing2 dan saling melindungi warga negara kedua negara. Dalain hal ini menurut Menteri Soedharmono sampai sekarang tidak ada masalah.

Atas pertanyaan wartawan, Menteri Soedharmono membenarkan rencana kedatangan PM Singapura Lee Kwan Yew ke Indonesia untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Soeharto. Waktu dan tempat pertemuan hingga kini belum ditentukan. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (19/05/1978) [1]

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: