Okt 282016
 

Jakarta, 14 Juni 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M. Soeharto

Jl. Cendana 6 Jakarta

BANYAK ORANG ISLAM MELUPAKAN AJARAN ISLAM [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sebelumnya kami mohon maaf atas kelancangan kami untuk menulis surat ini kepada Bapak. Hal ini karena hati nurani kami sangat tersentuh atas segala peristiwa akhir-akhir ini yang kami pandang tidak wajar lagi. Sebenarnya kami mengagumi Bapak sejak Bapak sebagai Presiden RI hanya kami dulu takut memperkenalkan diri kepada Bapak karena takut dianggap ada pamrih pribadi. Walaupun kami sebenarnya sudah akrab dengan Bapak Ibnu Widoyo maupun Bapak Sumito Ibnu Hardjono. Apalagi kami sangat sedih atas sikap sebagian umat Islam di negeri ini yang banyak melupakan ajaran Islam bahwa sesama Muslim adalah saudara. Kami sadar bahwa hanya do’a dan beberapa ayat Alquran yang mungkin bisa menenteramkan hati Bapak, sebagai tersebut di bawah ini:

  1. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar. (QS. 2 : 155)
  2. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan (QS. 2 : 286)
  3. Maka sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan. (QS. 94 : 5-6)

Dari ayat tersebut kita sadari bahwa Allah SWT, akan meningkatkan derajat hambanya dengan menguji hambanya sebatas kemampuannya.

Kami sekeluarga berdo’a agar Bapak sekeluarga selalu tabah dan yakin bahwa Allah swt, akan menunjukkan kebesarannya dengan memperlihatkan atas kebenaran yang sebenarnya.

Semoga Bapak selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amien. Salam keluarga kami untuk Bapak sekeluarga. (DTS)

Wassalam,

Agus Heriyanto

Cibubur – Jakarta

[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 24-25. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: