Agu 052017
 

BANGSA YANG INGIN MAJU HARUS MAMPU ADAKAN PERUBAHAN

 

 

Presiden Soeharto mengingatkan agar bangsa Indonesia yang hidup sekarang tidak sampai alpa membuat sejarah kepahlawanannya sendiri, bila ingin menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.

Karena bangsa yang tidak mampu mengadakan perubahan dan pembaharuan seperti dituntut oleh jamannya, berarti tidak mempunyai kemampuan untuk maju.

Hal itu dikatakan Kepala Negara ketika menghadiri Upacara Panen Raya dalam rangka Operasi Khusus Gelora Petani “Makmue Naggrou” (Negeri Makmur) di Desa Baro, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Aceh Barat Rabu kemarin.

Khusus untuk daerah Aceh, Presiden mengatakan, kepahlawanan rakyat Aceh pada zaman penjajahan dulu memang membanggakan. Namun kebanggaan itu jangan sampai menyilaukan pandangan yang hidup sekarang, sehingga alpa membuat sejarah kepahlawanannya sendiri dalam situasi yang jauh berbeda dari keadaan dahulu.

Presiden bersyukur karena rakyat Aceh tidak terbius oleh sejarah kepahlawanannya di masa lalu. Rakyat Aceh yang berjuang mati-matian melawan pemerintah kolonial yang menjadi musuh utamanya, ternyata kini juga berjuang tanpa mengenal lelah melawan keterbelakangan, kemiskinan dan kemelaratan yang menjadi musuh pembangunan.

Salah satu bentuk perjuangan rakyat Aceh untuk melawan keterbelakangan, kemiskinan dan kemelaratan itu adalah pelaksanaan Operasi KJmsus Gelora Petani “Makmue Nanggrou”.

Teknologi Pertanian

Daerah Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Tenggara merupakan daerah pertanian yang potensial karena memiliki lahan pertanian yang subur, curah hujannya cukup dan penduduknya rajin dan tekun.

Namun akibat belum terbukanya hubungan dengan daerah-daerah lain di masa lampau, maka petani di daerah belum dapat menerapkan teknologi pertanian yang tepat.

Bukan karena petaninya kurang tanggap dan tidak mau mentrapkan teknologi yang tepat guna dan bukan pula karena penyuluh kurang aktif, tetapi karena sistem bimbingan massal belum berjalan baik.

Sehingga penyelenggaraan usaha tani belum terpadu antara berbagai kegiatan penting, seperti antara kegiatan penyuluhan dan penyediaan sarana produksi, antara pelayanan pemberian kredit dan penanganan pemasaran hasil pertanian, dll.

“Jadinya, hal-hal yang sudah dipelajari petani dari para penyuluh pertanian temyata tidak dapat diterapkan oleh para petani dalam usaha lainnya,” kata Presiden Soeharto.

Presiden bersyukur pula, karena adanya kekurangan itu segera disadari. Usaha-usaha keterpaduan segera dilancarkan melalui Operasi Khusus Gelora Petani “Makmue Nanggrou” yang diprakarsai oleh Pemda dan petani sendiri.

Lebih dari itu, “Makmue Nangrou” tidak hanya mencakup pembangunan bidang pertanian, tetapi juga mencakup bidang koperasi dan industri rumah.

Ubah Pola Tanam

Operasi khusus yang meliputi sejumlah Kecamatan di Aceh Barat dan Aceh Tenggara ditunjang oleh bantuan dana dari pusat berdasarkan Keputusan Presiden No. 024 tahun 1985. Operasi itu sendiri secara resmi dimulai 7 Mei 1985.

Berbagai kegiatan untuk meningkatkan produksi pertanian setempat dilakukan, antara lain dengan mengubah pola tanam. Sebelumnya rakyat setempat hanya menanam satu kali setahun dan belum melaksanakan intensifikasi, dengan operasi itu dicoba penanaman padi dua kali setahun.

Hasilnya menggembirakan. Produksi yang semula 2,5 sampai 4 ton per hektar dapat ditingkatkan menjadi 5 sampai 6 ton.

Penanaman palawija dan hortikultura juga mengalami kemajuan. Kini areal tanaman jenis ini mencapai hampir 1.700 hektar, dibanding sebelumnya yang kurang dari 1.000 hektar.

Melalui operasi “Makmue Nanggrou” (artinya, memakmurkan negeri) diharapkan petani setempat meningkat kesejahteraannya.

Dalam lawatan satu hari ke Aceh itu Presiden disertai Ibu Tien Soeharto, Menko Ekuin Ali Wardhana, Mensesneg Sudharmono, SH, Mendagri Soepardjo Roestam, Menteri Pertanian Achmad Affandi.

Semula Terisolir

Panen raya yang disaksikan Presiden di daerah Istimewa Aceh ini mencakup tanaman padi dan tanaman palawija di desa Lueng Baro, Kecamatan Seunagan, Aceh Barat. Di desa Kubang Gajah kecamatan itu juga Presiden meninjau pameran kerajinan tangan. Ke dua desa terletak lebih kurang 36 kilometer arah selatan kota Meulaboh atau 281 kilometer dari Banda Aceh.

Kabupaten Aceh Barat merupakan daerah yang terisolir dan sudah 35 tahun tidak mempunyai sarana perhubungan jalan darat yang memadai. Dari Banda Aceh ke Meulaboh perjalanan ditempuh 12 sampai 14 jam lewat lima rakit penyeberangan.

Setelah ada operasi khusus ini masyarakat setempat sudah bisa menikmati jalan serta pola bercocok tanam mereka sudah berubah dari sekali setahun menjadi dua sampai tiga kali setahun.

Kabupaten Aceh Barat terdiri dari 19 kecamatan, lima di kepulauan yaitu di Pulau Simeulu, yang terkenal dengan hasil cengkehnya di Aceh dan lainnya ada di daratan dengan jumlah penduduk seluruhnya 305.390 jiwa.

Dua Aspek

Dalam pada itu, Gubernur Kepala Daerah Istimewah Aceh, H. Hadi Thajeb melaporkan kepada Presiden, pentingnya Operasi Khusus Gelora Petani “Makmoe Nanggrou” bagi D.I. Aceh, menyangkut dua aspek.

Pertama, dengan berhasilnya Opsus Gelora Petani ini diharapkan terdapat keseimbangan dan pemerataan pembangunan dan kemajuan rakyat di bagian Timur, Tengah dan di bagian Barat Aceh.

Ke dua, tersimpul dalam maksud tujuan Opsus Gelora Petani “Makmoe Nanggrou,” yaitu mendinamisir potensi rakyat di bidang-bidang pertanian tanaman pangan, palawija dan hortikultura, perikanan, peternakan, perkebunan, koperasi, serta industri kecil dan menengah dengan jalan sistem pengkreditan bank.

Menurut Hadi Thayeb, secara umum dapat dikemukakan bahwa Opsus Gelora Petani “Makmoe Nanggrou” merupakan kegiatan terpadu yang mutlak melibatkan beberapa instansi.

Ini berarti, di samping telah berhasil di dalam usaha peningkatan hasil dan produksi masyarakat, juga berhasil menggalang dan membina hubungan kerjasama atau koordinasi antar dinas/instansi yang terkait serta masyarakat secara keseluruhan.

Ditambahkan, hasil positif Opsus Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Barat, khususnya di kecamatan pelaksana, terlihat jelas pada kenaikan hasil produksi yang dicapai dalam perbandingan sebelum Opsus. Antara lain, hasil padi rata-rata dua ton per hektar gabah kering panen, kini menjadi rata-rata 4,5 ton sampai 5 ton per-hektar sesudah Opsus.

Kegiatan positif lain adalah dalam hal tertib tanam, kegunaan bibit unggul dan penggunaan pupuk. Sawah yang dulunya satu kali ditanam dalam setahun, kini menjadi dua kali tanam.

Aktivitas perbaikan mutu gabah melalui kegiatan pasca panen, yang dulunya menimbun padi atau “phui” di tengah sawah, kini digunakan “tresher” (mesin perontok) pada saat panen.

Harapan Masyarakat

Lebih lanjut Kepala Daerah Istimewa Aceh mengungkapkan, di samping harapan supaya usaha Operasi Khusus Gelora Petani tetap dikembangkan seterusnya, maka rakyat di Blang Keujeren, Aceh Tenggara dan rakyat di Aceh Barat, menitipkan harapan dan permohonan untuk disampaikan kepada Presiden, mengenai enam hal-hal sebagai berikut.

Diharapkan agar jalan tumbuh Takengon Blang Kenjeren, dari Blan Keujeren-Lokop-Peureulak, dapat tems dikerjakan dan diselesaikan. Begitu pula jalan danjembatan antara Meulaboh dan Banda Aceh dapat diselesaikan sesuai rencana.

Kemudian, guna menghubungkan antara pantai Barat dan Timur, maka jalan Meulaboh – Tutut – Geumpang – Tangse – Beureunun perlu segera direalisir.

Pembangunan jalan Lingkar Pulau Simeulue, mohon diteruskan. Selain itu, rakyat Bland Keujeren dan Simeulue sangat mendambakan direalisimya pembangunan relay TVRI, di samping rakyat Aceh Barat yang mengharapkan pembangunan Sekolah Menengah Tehnologi Pertanian di wilayahnya.

Melengkapi laporannya, Pemerintah Daerah Istimewa Aceh menyuguhkan suatu pameran hasil karya terpadu, agar Presiden dapat menyaksikan kemajuan pembangunan D.I. Aceh melalui angka-angka maupun karya nyata lainnya.

Temu Wicara

Selesai upacara tersebut, Presiden juga meluangkan waktu menerima wakil-wakil masyarakat daerah itu dalam suatu temu wicara dari hati ke hati. Para wakil masyarakat terdiri dari petani, pengrajin, anggota koperasi, anggota PKK dan para transmigran.

Lebih dari satu jam Presiden beramah-ramah dengan wakil-wakil masyarakat itu, sebelum menyaksikan suatu pameran hasil pertanian dan kerajinan rakyat di Desa Kubang Gajah, Kecamatan Kuala Tuha.

Presiden dan Ibu Tien Soeharto yang tiba di Desa Luang Baro, tempat diselenggarakannya Upacara panen raya itu pada jam 10.00 WIB, disambut Muspida kabupaten Aceh Barat dengan acara adat Peusijuk. (RA)

 

 

Meulaboh, Pelita

Sumber : PELITA (27/03/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 667-670.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: