BAKAT SENI DALAM DIRI SITI HARDIYANTI HASTUTI RUKMANA CUKUP POTENSIAL

BAKAT SENI DALAM DIRI SITI HARDIYANTI HASTUTI RUKMANA CUKUP POTENSIAL[1]

 

 

Jakarta, Merdeka

RUPANYA bakat seni dalam diri nyonya Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana yang akrab dipanggil Mbak Tutut itu cukup potensial. Buktinya, meskipun hari-harinya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan sesuai dengan jabatan penting yang disandangnya, namun ternyata masih sanggup menciptakan lagu. Diantara lagu ciptaannya berjudul ‘Gelisahku’ dan ‘Jangan Sangsikan Cintaku.’

Lagu ciptaan Mbak Tutut yang hampir semuanya bertemakan cinta itu ternyata telah dikumandangkan para duta seni budaya yang tergabung dalam Face of Indonesia dalam lawatannya ke beberapa negara belum lama ini. Dalam pagelaran yang diselenggarakan di Hailai Executive Club Jakarta, Selasa Malam (23/5) lalu, nomor Gelisahku kembali dibawakan artis serba bisa Dewi Yull.

Dengan lahirnya nomor-nomor ciptaan itu semakin membuktikan bahwa dunia seni memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan putri sulung Presiden Soeharto itu. Karena kepeduliannya itu, Mbak Tutut telah menjadi duta seni yang secara tidak langsung melakukan diplomasi kebudayaan ke beberapa negara sahabat, antara lain Amerika, Belanda dan sebagainya.

Dalam sambutannya di Hailai Executive Club, Selasa malam itu Mbak Tutut antara lain mengatakan, 50 tahun bukan waktu yang pendek bagi sebuah kemerdekaan tapi bukan pula waktu yang cukup panjang untuk mengisi kemerdekaan. Dalam kurun waktu 50 tahun belum seluruh cita-cita bangsa ini terpenuhi tapi di balik kekurangan banyak sudah kemajuan-kemajuan di segala bidang yang telah dicapai bangsa Indonesia.

Namun demikian ada beberapa hal, selain dimajukan harus juga dilestarikan. Salah satunya adalah budaya Indonesia yang sarat tantangan namun penuh harapan dan kekayaan bangsa Indonesia yang sangat membanggakan dalam budaya ini patut untuk ditampilkan.

Mensyukuri kemerdekaan bangsa Indonesia, dengan berbekal keyakinan, tekad, pengabdian dan kedisiplinan kita melangkah dari satu negara ke negara lain untuk menampilkan budaya peninggalan nenek moyang bangsa kita maupun kemajuan dunia seni di negara tercinta Indonesia.

“Dengan budaya karni datang, dengan budaya mereka kami sapa, dengan budaya kami bercerita, dengan budaya kami undang mereka, dan dengan budaya kami jalin persahabatan dan perdamaian.” pesan Hardiyanti.

Ketika memberikan sambutan selaku Ketua Umum Yayasan Tiara Indonesia dan Yayasan Tiara Indah pada acara di Hailai itu ‘Bunda’ (panggilan baru Mbak Tutut) menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap telah dipanggil-Nya salah seorang pendukung acara Faces of lndonesia Irma Damayanti. Sebagaimana diketahui siswa kelas II SMA Negeri II Tangerang itu meninggal karena kecelakaan beberapa hari sepulang dari lawatan ke luar negeri.

Dikatakannya, selama mengikuti muhibah seni ke beberapa negara itu, almarhumah dikenal sebagai anak yang taat, baik, ramah, pandai bergaul dan selalu mendapat pujian pada setiap pertunjukannya. Karena selama hidupnya, almarhumah adalah juara pertama Puteri Bahana Suara Pelajar tahun 1993. (HPS).

Sumber : MERDEKA (26/05/1995)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 690-691.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: