Mar 142018
 

ARGOMULYO, DESA KELAHIRAN PAK HARTO

 

 

Jakarta, Pelita

ANDAIKATA O.G. Roeder penulis buku “Soeharto, Dari Prajurit Sampai Presiden”- kini sempat datang ke Kemusuk, Desa Argomulyo Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Provinsi DI. Yogyakarta, bisa jadi ia tak akan menuliskan potret sebuah desa yang sunyi senyap yang pernah dilihatnya beberapa tahun lalu. Roeder mungkin akan menuliskan potret desa yang penuh dengan hiruk-pikuknya warga desa dalam mengarungi kehidupannya.

Dalam buku riwayat hidup Presiden Soeharto yang diterbitkan tahun 1969 itu, Roeder melukiskan suasana desa kelahiran Presiden Soeharto, Kemusuk, Argomulyo selain sunyi senyap, para penduduknya menjalani kehidupan yang tak berubah-ubah, dari masa kemasa.

Maksud Roeder, para penduduknya hanya hidup dari menanam dan memotong padi (hal 107 – red). Gambaran seperti itu kini telah lenyap. Tak ada lagi secuil kisah tentang kesedihan, penderitaan atau keterbelakangan yang merayapi Desa Argomulyo.

 

Kota Mini

Desa yang dulu sunyi-senyap dengan irama kehidupannya yang lamban karena sebagian besar warga desa hidup dari menanam dan memotong padi saja, kini telah bangkit menjadi sebuah desa yang penuh dengan hiruk-pikuknya pelaksanaan pembangunan. Selama bertahun-tahun warga desa menyingsingkan lengan bajunya, untuk menaikkan citra desanya.

Desa atau lebih tepat dengan julukan sebuah kota mini, dengan luas 953 Km2, berpenduduk 10.661 jiwa dengan Kepala Desa R. Noto Soewito, memang tak henti-hentinya terus membenahi diri. Sehingga bukan suatu hal yang mustahil desa yang berjarak 10 Km sebelah barat Yogyakarta ini beberapa kali berhasil tampil sebagai juara pertama dan kedua lomba desa, baik tingkat Provinsi maupun untuk tingkat Kabupaten. “Bahkan pada Februari 1991 menurut rencana desa Argomulyo akan digunakan sebagai ternpat pencanangan LMD tingkat nasional “, ungkap Dulhari (60), Ketua Lembaga Masyarakat Desa (LMD) Argomulyo.

Keberhasilan demi keberhasilan yang berhasil diraih oleh Desa Argomulyo dalam upaya memacu diri, dengan kemampuan diri sendiri. Tanpa ada bantuan atau uluran dari pihak lain. “Kalau toh ada bantuan, sifatnya formal sesuai dengan prosedur yang ada, atau sesuai dengan peraturan pemerintah yang juga berlaku bagi daerah-daerah lain”, ungkap Dulhari.

Menurut Dulhari, meskipun Argomulyo merupakan tanah kelahiran Presiden Soeharto, akan tetapi keberadaannya dan posisinya tetap sama dengan desa-desa lain. “Tidak ada pengecualian. Justru kami dituntut untuk bekerja lebih keras untuk menjaga citra desa ini,” ujarnya.

 

Sawah

Sebagai desa kelahiran Presiden Soeharto, menurut Sigit Sumamo, Sekretaris Desa, tentu saja wajar jika desa dan warga desa menerima sawah (pengaruh wibawa – red) dari kebesaran bapak Presiden. “Karena sawah itulah yang menjadikan Desa Argomulyo mengalami banyak kemajuan. Jadi tidak ada faktor lain kecuali sawab itu” ujarnya.

Dikatakan, oleh Sigit, karena sawah dan bapak Presiden Soeharto itulah yang membuat warga desa menjadi senang dan bergairah untuk bekerja lebih keras. Jadi ada semacam kebanggaan bagi warga desa untuk bekerja lebih keras, bersungguh-sungguh membangun desanya.

Akan halnya riwayat Desa Argomulyo sendiri merupakan gabungan dusun dari 4 desa. Seperti Desa Kemusuk yang membawahi Dusun Puluhan, Kemusuk Lor, Kemusuk Kidul dan Srontakan, Desa Pedes membawahi Dusun Pedes, Panggang, Karanglor dan Surobayan. Desa Plowanan membawahi Dusun Samban, Watu dan Sengon Karang. Sedangkan Desa Kali Beret membawahi Dusun Kali Urang dan Kali Beret.

Penggabungan 4 desa menjadi satu desa itu terjadi setelah kemerdekaan RI. Tepatnya di tahun 1946. Sebelum dilakukan penggabungan Dusun Srontakan (kelahiran Presiden Soeharto), Desa Kemusuk Kidul, Kelurahan, Kemusuk masuk wilayah Kecamatan Pedes, Kawedanan Godean, Kabupaten Sleman. Makanya bukan hal yang mengherankan jika sampai saat ini masih saja ada yang selalu menyebutkan Argomulyo masuk Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman.

Berkat kerja keras Kepala Desa Argomulyo Noto Soewito yang memangkujabatan sejak tahun 1969, bersama rakyatnya ia memacu Desa Argomulyo terus melangkah ke depan untuk mengejar berbagai ketertinggalan. “Dan ternyata berbagai upaya yang telah dirintis pak Lurah, tidak sia-sia. Banyak kemajuan yang telah dicapai desa ini”, ungkap Dulhari menjelaskan.

Sebagai bukti, demikian Dulhari menggambarkan ,jika pada tahun tahun 1950-an kita seringkali mendengar orang berkelahi karena rebutan air, sekarang tak terdengar lagi kasus semacam itu. “Air kini melimpah di desa ini. Para petani tak lagi kekurangan air. Menanam padi tak lagi menunggu musim hujan. Kapanpun padi bisa ditanam dan kapanpun bisa dipanen”, katanya dengan penuh semangat.

 

Air Melimpah

Melimpahnya air di kawasan Desa Argomulyo sejak tahun 1975, karena sistem irigasi ditangani dengan baik. “Seperti anjuran Bapak Presiden Soeharto ketika datang menjenguk desa kelahirannya pada tahun 1970. Dimana bapak Presiden selalu menanyakan sistem irigasi berjalan baik atau tidak. Dan menganjurkan agar masalah irigasi ditangani dengan baik untuk kepentingan pertanian ,”ungkap Dulhari.

Dengan melimpahnya air di kawasan Desa Argomulyo perkembangan pertanian dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. “Dengan demikian, para petani tidak hanya hidup dari hasil padi saja, akan tetapi mulai melangkah lebih jauh kejenis tanaman-tanaman lain yang lebih menguntungkan. Misalnya tanaman kedele, bawang putih , sampai semangka”, ungkap Dulhari.

Tidaklah mengherankan dengan membaiknya sektor pertanian yang kemudian diikuti oleh sektor-sektor lainnya, seperti peternakan, perikanan, perindustrian dan perdagangan, pendapatan perkapita warga Desa Argomulyo terus menunjukkan peningkatannya.

Misalnya saja, pada tahun 1986 pendapatan perkapita diukur dengan harga beras perkilogramnya Rp 340,- mencapai Rp 294.208,- pada tahun 1987 pendapatan perkapita menjadi Rp 342.369 dengan harga beras pada waktu itu Rp 360,- untuk setiap kilogramnya. Sebagai bukti lagi adanya peningkatan taraf hidup di Desa Argomulyo, baik menurut Ketua LMD Dulhari, Sekdes Sigit Surnamo dan beberapa orang warga lainnya, kini di Desa Argomulyo tak ditemui lagi rumah-rumah yang berdindingkan bambu hampir semua rumah di Desa ini berdinding tembok. Sebagian besar rumah penduduk telah dijangkau aliran listrik. “Hanya ada beberapa rumah di kawasan perbukitan, bagian selatan yang belum dijangkau listrik karena medannya yang sulit, yakni Dusun Kali Beret”,ungkap Dulhari.

Warga desa, demikian Dulhari, tak mengalami kesulitan dalam menentukan kiprah hidupnya sekarang. Mereka tinggal pilih mau sebagai petani, wiraswasta atau bergerak di bidang industri, peternakan maupun perikanan . Semua serba memungkink an untuk dikembangkan di Argomulyo.

Desa yang semula merupakan daerah terpencil, terutama di sekitar tahun-tahun 1950-an sampai 1960-an kini telah menja di daerah yang terbuka. Kendaraan umum, seperti bis maupun truk pengangkut barang bisa meluncur dengan tenangnya di atas ja1an aspa1 yang membe1ah desa itu sepanjang kurang lebih 7 Km dari pertigaan Pedes (tepi jalan raya Yogyakarta Purworejo) sampai ke Kecamatan Godean.

 

Strategis

Desa Argomulyo berada di pertengahan jalan pertigaan Pedes sampai ke Godean. Untuk menuju Argomulyo, bisa ditempuh melalui jalur selatan pertigaan Pedes maupun melalui Godean sebelah Barat.

 

Laut Yogyakarta

Daerah yang cukup strategis yang berada di wilayah pinggiran kota Yogyakarta dengan berbagai fasilitas dan sarana yang cukup lengkap itu, tak ubahnya bagai kota mini yang menempel di kota besar Yogyakarta. Selain dibelah jalan tembus Pedes-Godean- Argomulyo juga dibelah jalan Raya Yogyakarta Purworejo dan rel kereta api Yogyakarta-Kutoatjo yang menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa melalui jalur Selatan.

Fasilitas pendidikan di sini tumbuh bagaikan jamur di musim hujan pada saat sekarang ini. Misalnya, di desa tersebut berdiri Universitas Wangsa Manggala yang kini telah berusia sekitar tiga setengah tahun dengan para mahasiswanya, berasal dari berbagai penjuru tanah air. Belum terhitung fasilitas pendidikan lainnya, baik setingkat SLTA, SLTP, SDN dan Taman kanak-kanak, dengan sarana pendidikan sekitar 23 gedung.

Selain didirikan sekolah umum seperti SMA dan SMP, dibuka pula sekolah-sekolah kejuruan. Dengan tujuan untuk memberikan keseimbangan antara kepandaian dan ilmu. Maka dibukalah STM dan SPMA atau SPP.

 

Pos dan Giro

Menurut Dulhari, berdirinya beberapa sekolah di Argomulyo itu pada awalnya atas prakarsa pengusaha Probosutedjo dengan dukungan para warga Argomulyo, baik yang berada di luar daerah maupun yang berada di Argomulyo sendiri. Tujuannya agar anak-anak di desa tersebut tidak terlalu jauh menuntut ilmu.

Selain sarana pendidikan yang berdiri megah di daerah itu, untuk memudahkan warga Argomulyo melakukan surat menyurat atau kepentingan lainnya yang berurusan dengan Pos dan Giro, di daerah tersebut juga berdiri sebuah kantor Pos dan Giro. Kantor ini selalu ramai dikunjungi warga Argomulyo baik pendatang atau penduduk desa. Misalnya para mahasiswa yang setiap bulan mencairkan wesel kiriman orang tuanya. Mereka tak perlujauh-jauh harus ke Yogyakarta.

MelihatArgomulyo sekarang, selain menatap jalan beraspal sampai ke pelosok-pelosok desa, tangki penimbun minyak Pertamina, jaringan irigasi, jaringan listrik yang terawat dengan baik itu, terlihat pula sebanyak 39 sarana ibadah bagi umat Islam, serta satu Kapel (gereja kecil) bagi warga yang beragama Nasrani.

Tidaklah berlebihan jika ada yang menjuluki Argomulyo, kini merupakan desa “gemah ripah loh jinawi”, “tata tentrem kerta rahardjo” (kaya raya subur makmur, sera teratur, tentram, adil dan bahagia).

 

 

Sumber : PELITA (08/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 476-482.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: