ANGKATAN 45 RELA JIKA SU-MPR PILIH PIMPINAN NASIONAL DARI PASCA-45

ANGKATAN 45 RELA JIKA SU-MPR PILIH PIMPINAN NASIONAL DARI PASCA-45[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Ketua Dewan Harian Nasional Angkatan 45 Jenderal TNI (Pum) Surono berpendapat, Angkatan 45 bersikap rela dan legowo jika Sidang Umum MPR 1998 mendatang memilih pimpinan nasional dari pasca Angkatan 45.

“Angkatan 45 itu tunduk kepada rakyat. Karena itu posisi pimpinan nasional mungkin saja beralih ke pasca Angkatan 45, kalau memang dikehendaki rakyat. Tapi, mungkin saja Pak Harto selaku angkatan 45 juga dipilih kembali oleh wakil rakyat di MPR.” kata Surono kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (10/ 12), di sela-sela Musyawarah Besar Nasional Dewan Harian Nasional Angkatan 45.

Dikemukakan, siapa yang nantinya akan menjadi Presiden dan wakil Presiden, Angkatan 45 sepenuhnya menyerahkan kepada mekanisme dan sistem yang berlaku. Dalam kaitan itu, Angkatan 45 dalam Mubenas ini tidak akan mengeluarkan pernyataan sikap politik menyangkut masalah suksesi kepemimpinan nasional.

“Ndak ada calon-calonan dari Angkatan’45. Juga ndak ada dukung-dukungan. Sebab DHN 45 tidak mau melibatkan diri dalam masalah politik. Itu porsi MPR.” katanya menjawab pertanyaan.

Dijelaskan, Pak Harto sendiri dalam berbagai kesempatan sudah menyatakan tidak pernah mempersiapkan putra mahkota.

“Beliau (Pak Harto-red) sendiri sepengetahuan saya kesehatannya prima.” katanya menjawab pertanyaan apakah faktor kesehatan akan mempengaruhi kesediaan Pak Harto untuk dipilih lagi.

Menanggapi adanya usulan dari sejumlah kalangan masyarakat yang mulai menjagokan seseorang untuk rnenduduki jabatan wakil Presiden, mantan Ketua Umum KONI itu menyatakan rnasalah itu tidak ada kaitannya dengan DHN 45.

“Soal Wapres itu biar saja urusan Presiden terpilih. Apa dia datang dari sipil atau militer, tergantung dari situasi dan keinginan Presiden . Sebab, dia akan menjadi pernbantu utama Presiden.” ujarnya.

Lebih Ianjut mantan Menko Kesra ini mengingatkan pengertian peralihan generasi dalam kehidupan politik nasional agarjangan disamakan dengan pergantian.

“Sebab, ada salah tafsir,peralihan sama dengan pergantian. Misalnya, anggapan generasi 45 diganti pasca-Angkatan 45.” katanya.

Ditambahkan pula, sekarang ini sedang berlangsung proses peralihan dari generasi ke generasi. Dicontohkannya, posisi strategis Menristek BJ Habibie merupakan bukti adanya proses tersebut. Ditanya kapan peralihan generasi 45 benar-benar sudah tuntas diberikan kepada generasi yang lebih muda, secara diplomatis ia menjawab jika semua posisi strategis dalam sistem pemerintahan sudah diisi oleh generasi yang lebih muda.

“Soal kapan waktunya, itu tergantung dari adanya kemungkinan dan kesempatan.” ujarnya.

Surono mengemukakan pula, banyak kader-kader muda yang berpotensi menjadi calon pemimpin. Mereka bisa saja muncul jika  memang ada waktu dan kesempatan. Ia membantah, sistem yang ada sekarang mandeg sehingga menyulitkan kaderisasi pemimpin. Calon-calon pemimpin itu bisa muncul sewaktu-waktu tanpa harus ada persiapan.

“Seperti Pak Harto, dulu juga tidak ada yang mengira bisa menduduki puncak pimpinan nasional dan tidak ada yang mempersiapkan.” ujarnya.

Sumber : SUARA KARYA (11/12/1996)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Pertama, 2008, hal 160-161.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.