Des 182014
 

Konsekuen Terhadap Cita-Cita Perjuangan Bangsa

H Amirmachmud (Menteri Dalam Negeri periode 1969-1983; dan Ketua MPR/DPR Masa Bakti 1983-1988)

Awal perkenalan saya dengan Pak Harto adalah semasa saya bersama-sama beliau mengikuti Kursus C (setingkat Seskoad) di Bandung pada tahun 1959. Di sini saya mulai dekat dan mengenal watak beliau yang memang agak pendiam, tetapi pandai bergaul. Pembawaan dan sikap Pak Harto selalu sederhana, tidak neko-neko. Beliau patuh ajaran kebatinan (kejawen) dan selalu melaksanakan ajaran kearifan para sesepuh/leluhurnya. Beliau selalu bersikap “rendah hati”, suka membirnbing dan menasihati teman-teman.
Dalam bidang pelajaran, beliau adalah seorang yang tekun dan rajin. Di sini kecerdasan pikiran dan kejernihan rasa Pak Harto terlihat lebih menonjol daripada yang lain. Bila ada diskusi, beliau selalu mernperhatikan dahulu, mendalami masalahnya, kemudian barulah mengajukan saran-saran pemecahannya dengan penjelasan yang sistematis, jelas, rasional dan pasti, sehingga kami sering kagum atas pandangan-pandangan beliau. Bahkan, disamping itu beliau memiliki karisma yang besar.
Selesai pendidikan saya bersama-sama beliau ditempatkan di Caduad, yang kini menjadi Kostrad. Waktu itu saya ditugaskan sebagai Asisten II Caduad, dan Pak Harto menjadi komandannya. Selama memimpin Caduad, terlihat jelas sifat kepemimpinan beliau yang semakin mantap, dinamis dan kreatif, tetapi dalam pembawaan yang bersahabat dan tidak neko-neko (aneh-aneh). Jauh dari sifat angkuh dan otoriter, beliau adalah seorang yang selalu memegang teguh disiplin, percaya pada diri sendiri, dan berani bertanggungjawab. Beliau selalu menekankan motto kepemimpinan ing ngarsa sung tulada; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani. Di sinilah profil seorang Pancasilais nampak sekali.
Tanggungjawab tugasnya selalu dikaitkan dengan tanggung jawab nasional. Oleh karena itu sebelum melaksanakan sesuatu tugas, beliau senantiasa memberikan pengarahan tentang tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Tugas dan fungsi dibeberkan secara jelas, agar tidak menimbulkan keraguan dan kesangsian didalam pelaksanaannya. Didalam memberikan pengarahan, beliau selalu menjelaskan aspek-aspek strategis, teknis dan taktisnya secara lengkap dan menyeluruh. Penjelasan beliau homogen dan workable dan disusun secara bertahap.
Secara khusus saya ingin menyampaikan kesan tentang sikap pekerti beliau mengenai aspek-aspek kepemimpinan yang bisa saya amati, saya hayati, dan saya rasakan. Pak Harto sebagai hamba Tuhan Yang “Maha Esa menyadari keberadaan dirinya sebagai makhluk yang memiliki kekurangan dan kelemahan. Walaupun menduduki jabatan tertinggi didalam Republik ini, namun beliau senantiasa rendah hati, jauh dari sikap sombong, angkuh, congkak, adigang-adigung-adiguna dan sifat-sifat yang tidak terpuji lainnya. Tampaknya beliau selalu berpegang pada kedalaman makna falsafati aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa, yang arti harfiahnya “jangan merasa bisa, tetapi hendaknya bisa mengerti akan dirinya”, dan aja dumeh yaitu “jangan mentang-mentang”.
Apa yang telah menjadi tekad dan keputusan beliau selalu dipegang teguh dan dilaksanakan secara konsekuen. Tekad yang sudah membara ini kadang-kadang diwujudkan dalam gerakan “nekad” oleh beliau, tetapi benar dan berani bertanggungjawab. Inilah sisi lain dari sosok kepemimpinan beliau yang terlihat sewaktu diberi tugas sebagai Panglima Mandala didalam pembebasan Irian Barat dari cengkraman penjajah Belanda. Pada waktu itu ruang lingkup tugasnya lebih luas dan lebih berat, karena meliputi berbagai aspek seperti ABRI, rakyat, politik, hankam, strategi, taktik operasional, koordinasi, masalah luas wilayah sasaran Irian Barat yang belum banyak dikenal, dan pembagian tugas maupun rentang kendalinya (span of control).
Namun karena tekad yang telah terukir kuat untuk segera membebaskan Irian Barat, maka kobaran tekad tersebut telah membakar semangat jajaran komando Trikora dibawah pimpinan dan tanggung jawab Jenderal Soeharto. Ketika itu, saya sebagai G-11/Operasi Mandala menyaksikan bahwa beliau memiliki kelebihan dalam mengantisipasi keadaan yang harus dihadapi, beliau juga bertindak sebagai seorang komandan yang bertanggungjawab penuh atas segala yang telah diperintahkan kepada anak buahnya. Pak Harto tidak pernah mengenal istilah tinggal gelanggang colong playu atau “lempar batu sembunyi tangan”. Beliau tetap berpegang pada prinsip dasar, bahwa tidak ada prajurit atau bawahan yang salah. Kesalahan bawahan adalah tanggungjawab atasannya. Bertolak dari sikap dasar itu, maka dalam memberi pengarahan dan komahdo terhadap bawahannya, Pak Harto selalu jelas dan gamblang, baik yang menyangkut perkiraan keadaan, tugas yang harus dilaksanakan, fungsi yang diemban, program operasi, koordinasi dan lain sebagainya.
Dalam memimpin operasi infiltrasi seperti penerjunan lewat udara, beliau selalu berada di depan. Disamping itu untuk membantu keberhasilan sesuatu operasi secara spiritual, beliau selalu berpuasa memohon perlindungan dan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa agar pasukannya memperoleh sukses. Di sini bisa dirasakan bahwa beliau selalu menjaga keseimbangan yang baik antara rasio dan emosi, antara strategi, taktik, teknik operasional dan kebatinannya. Begitu pula beliau sangat teliti, sehingga titik koma dan lain sebagainya tidak terlepas dari perhatian beliau.
Seusai pelaksanaan Trikora saya berpisah dari Pak Harto; beliau kembali ke Kostrad di Jakarta, sedangkan saya ditugaskan sebagai Panglima Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan. Walaupun kami tidak lagi didalam satu kesatuan, akan tetapi saya tetap memelihara hubungan baik dengan beliau. Bahkan hubungan pribadi diantara kami lebih meningkat, sehingga setiap kali ke Jakarta, saya selalu berusaha untuk menemui Pak Harto di Jalan H Agus Salim. Hubungan kami semakin dekat lagi dengan kepindahan saya ke Jakarta pada bulan Desember 1965, dimana saya menjadi Panglima Kodam VI Jayakarta. Di sini hubungan saya dengan Pak Harto menjadi lebih dekat lagi. Dalam kedudukan Pak Harto sebagai Panglima Kopkamtib, saya lebih sering berhubungan dengan beliau.
Karena situasi berat akibat pemberontakan G-30-SIPKI, Pak Harto selaku Panglima Kopkamtib senantiasa memberikan pengarahan tugas yang jelas dan terarah. Hubungan komando pada saat itu bertambah dekat lagi. Saya diberi kebebasan yang besar dalam melaksanakan tugas, asal tidak menyimpang dari tujuan, tugas dan fungsi masing-masing. Beliau kadang-kadang hanya memberi pengarahan dalam garis besarnya saja, tidak menjlimet pada yang kecil-­kecil/detail. Sejak saya menjabat Panglima Kodam V/Jayakarta, komunikasi sambung batin bertambah erat, kesamaan gerak cipta, rasa dan karsa yang mendorong saya untuk lebih mendalami dan mempertajam kepekaan sasmita dan “kehalusan pekerti” beliau selaku pimpinan yang bertanggung jawab terhadap pemulihan keamanan dan ketertiban di tanah air yang telah dirusak oleh ulah PKI dan antek-anteknya, serta didalam upaya mengatasi kemelut nasional yang nyaris menyeret rakyat dan negara tercinta ini ke jurang kehancuran.
Pada saat-saat yang sangat kritis dan menentukan dalam menyelamatkan bangsa dari lembah kehancuran inilah, saya memahami dan merasakan benar-benar keagungan jiwa, kecerdasan pikiran, ketulusan batin dan kepekaan indra dan sasmita beliau dalam mengambil langkah-langkah strategis dan mendasar demi kelangsungan kehidupan dan pembangunan bangsa yang berdasar­ kan Pancasila. Beliau mampu meliwati titik-titik kritis tersebut, karena beliau adalah seorang yang selalu konsekuen terhadap cita­cita perjuangan bangsa sejak awal kemerdekaan. Rupanya falsafah kearifan para leluhur kita dengan semboyan suradira jayanigrat lebur dening pangastuti selalu menjiwai dan menyemangati perjuangan beliau.
Ada beberapa pengalaman yang menarik sewaktu saya menjadi Panglima Kodam V/Jayakarta. Misalnya pada suatu hari kebetulan bertepatan dengan malam Jum’at, saya dan Asisten Kasad di panggil oleh Pak Harto. Setelah bertemu, beliau memutar kembali isi tape dari sebuah radio swasta yang mencaci-maki Pak Harto. Kemudian beliau menanyakan kepada saya: ”Apakah hal ini akan dibiarkan saja?” Maka secara spontan saya menjawab bahwa malam itu juga sebenarnya sudah saya gerakkan pasukan khusus untuk mencari dan menghancurkan radio amatir tersebut. Akhirnya radio amatir itu dihancurkan dan orang-orangnya ditahan. Di sini sebenarnya telah terjadi titik temu dalam hati saya sebagai Panglima Kodam V/Jayakarta dengan Pak Harto sebagai Panglima Kopkamtib.
Pengalaman lain yang menarik bagi saya ialah ketika pada suatu pagi saya dipanggil oleh Pak Harto. Saya diperintahkan mewakili beliau melepas Bung Karno ke Bogor dan dipesan agar menjauhkan pasukan dari jalan yang akan dilalui oleh Bung Karno. Setelah saya menghubungi Komandan RPKAD, Dandim dan lain-lainnya, saya langsung lapor kepada Bung Karno. Kepada beliau saya laporkan bahwa saya menjalankan tugas atas nama Pak Harto untuk melepas Bung Karno ke Bogor. Saya jelaskan pula kepada Bung Karno bahwa dalam perjalanan tidak akan terjadi gangguan apapun dan tidak akan ada pasukan yang berada di pinggir jalan. Pada saat saya melapor itu, seperti ada sesuatu yang mengerakkan lidah saya untuk menyampaikan sesuatu kepada Bung Karno. Saya bilang: “Agar Bung Karno dapat menyerahkan Subandrio kepada saya sebagai Panglima Kodam V/Jayakarta”. Bung Karno tidak segera menjawab, tetapi terus menarik tangan saya, dan berbisik: “Saya akan segera menyerahkan Subandrio kepada Panglima, tetapi jangan dibunuh“. Spontan saya menjawab bahwa saya bukan PKI. Selanjutnya saya bertanya lagi: “Dimana Subandrio sekarang?” Bung Karno menjawab bahwa Subandrio ada di Guest House Istana tingkat atas dan saya akan diantar oleh ajudan Sabur ke sana. Setelah Bung Karno berangkat, saya langsung pergi ke Guest House; di sana memang ada beberapa menteri yang sedang dicari oleh ABRI. Dalam satu kamar terdapat Dr. Subandrio, Dr. Sumarno, Armunanto, dan Sutomo. Akhirnya mereka diproses melalui jalur hukum.
Kemudian pada tahun 1969, Pak Harto sebagai Presiden Republik Indonesia mengangkat saya sebagai Menteri Dalam Negeri, sekaligus sebagai Pembina Politik Dalam Negeri untuk periode 1969-1983. Hubungan saya secara pribadi maupun kedinasan lebih meningkat lagi pada masa ini. Beliau senantiasa menekankan beberapa prinsip dasar kepada para menteri agar selalu berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945, demokrasi, konstitusi, dan prinsip-prinsip kepemimpinan nasional. Khusus kepada saya selaku Pembina Politik Dalam Negeri, beliau meminta agar memikirkan dan mengusahakan penyederhanaan partai/organisasi sosial-politik kontestan pemilu.
Dalam hal ini beliau mengarahkan agar kontestan pemilu yang akan datang tidak sebanyak tahun 1971. Beliau mengharapkan agar nanti hanya ada tiga kontestan saja. Pertama, kontestan yang mendahulukan aspek material tanpa meninggalkan aspek spiritual. Kedua, kontestan yang mendahulukan aspek spiritual tanpa meninggalkan aspek material. Dan, ketiga, kontestan yang mendasarkan diri pada aspek kekaryaan. Disamping itu beliau berpesan agar saya memikirkan tentang perlunya dilakukan restrukturisasi terhadap struktur kepartaian yang ada dan rekulturisasi atas kultur yang ada, demi tercapainya keseimbangan dan keselarasan pembangunan. Saya yakin bahwa kesemuanya ini dilakukan beliau karena rasa tanggungjawab beliau terhadap perkembangan bangsa kita baik secara nasional maupun internasional.
Memang Pak Harto memiliki feeling atau indera yang tajam dan peka. Dengan tetap menjaga keseimbangan antara rasio dan emosi serta dengan memperhatikan situasi dan kondisi, Pak Harto sebagai Presiden selalu menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinari ABRI yang disesuaikan dengan tugas-tugas kenegaraan. Prinsip­-prinsip tersebut beliau terapkan misalnya didalam perkiraan keadaan, menganalisa keadaan, mengambil kesimpulan, mengambil keputusan, menentukan rencana dan program operasinya, memberikan perintah, melakukan pengawasan/kontrol, melakukan koordinasi; integrasi dan sinkronisasi pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai. Selain itu Pak Harto selalu berbicara sederhana, tidak muluk-muluk, dan mudah dipahami serta dapat dilaksanakan. Demikianlah dengan kebijakan dan dukungan Pak Harto yang sangat kuat, maka saya yang diserahi tugas memimpin Departemen Dalam Negeri/Pembina Politik Dalam Negeri berhasil mengeluarkan dan melaksanakan Peraturan Menteri (Permen) No. 12 pada tahun 1969. Permen 12 ini menghendaki pengisian DPRD I dan DPRD II dengan Golkar non-afiliasi. Kemudian saya juga mengeluarkan intruksi kepada seluruh gubernur untuk membentuk Golkar di daerah-daerah tingkat I dan tingkat II.
Dengan dukungan Pak Harto saya menerima tugas untuk melaksanakan Pepera di Irian Jaya, padahal waktu itu pelaksanaannya tinggal kurang-lebih empat bulan saja. Syukurlah, bahwa tugas khusus itu dapat saya penuhi dan laksanakan dengan baik. Berkat kepemimpinan yang arif dari Pak Harto pula, tugas yang dibebankan pada saya selaku Menteri Dalam Negeri/Ketua Lembaga Pemilihan Umum Indonesia untuk menyelenggarakan dan me­ nyukseskan pemilu 1971, 1977 dan 1982 beserta rangkaian sidang­ sidang umum MPR, dapat saya selesaikan dengan sukses.
Selama saya berhubungan dengan Pak Harto, saya memperoleh kesan. bahwa yang penting bagi beliau dalam pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan bangsa adalah bahwa kita berpikir, bergerak dan bertindak dengan berpegang teguh kepada Pancasila sebagai landasan idiil, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional,
Demokrasi Pancasila dengan segala aspek dan wataknya, GBHN sebagai landasan operasionalnya, sistem pemerintahan negara sebagaimana termuat dalam UUD 1945 sebagai landasan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, prinsip-prinsip kepemimpinan nasional lima tahun, dan ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kemudian dari pada itu dalam berkarya dan bertindak senantiasa harus didasarkan kepada prinsip-prinsip memegang teguh tugas dan tujuan yang hendak dicapai, memperhatikan dan menjiwai fungsi-fungsi departemen/lembaga dengan baik, berpegang teguh pada rencana dan program yang telah ditetapkan serta program operasionalnya serta tidak ketinggalan melaksanakan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi serta kontak-kontak dengan instansi/ lembaga yang terkait. Karena tugas, tujuan, serta fungsi telah jelas, maka didalam bekerja dan bertindak, saya mendapat keleluasaan dan kebebasan penuh didalam meinimpin departemen/lembaga yang dipercayakan kepada saya, serta kelonggaran untuk bertindak tanpa dihantui oleh keragu-raguan sedikitpun. Dengan demikian dinamika dan kreativitas dapat lebih berkembang tanpa ada paksaan atau pembatasan yang ketat dan kaku.
Walaupun begitu, saya selalu meminta petunjuk dan berkonsultasi dengan Pak Harto. Manakala kebijaksanaan atau tindakan yang akan saya lakukan itu mempunyai dampak yang luas terhadap stabilitas nasional, baik dampak politik, ekonomi, sosial­ budaya maupun hankam, atau kebijaksanaan tersebut akan mem­ pengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap kedudukan Presiden sebagai Kepala Negara, atau Mandataris MPR, maka saya berkonsultasi dengan beliau. Begitu pula apabila suatu kebijaksanaan/kegiatan yang akan dilakukan itu memerlukan KIS (Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi) antar departemen/antar menteri atau antar instansi yang terkait. Konsultasi dalam rangka memantapkan KIS saya pandang merupakan kekuatan dan wahana tersendiri demi suksesnya misi departemen/pemerintahan. Dalam kenyataan dapat dirasakan posisi Pak Harto sebagai pionir ekonomi, sebab orientasi beliau sangat kuat di bidang ekonomi. Memang kenyataannya beliau berhasil mengangkat bangsa dan rakyat Indonesia dari lembah kemiskinan dan kesengsaraan dengan melaksanakan pembangunan yang berfokus pada bidang ekonomi.
Semenjak saya dipercayai menduduki jabatan sebagai Ketua MPR/DPR periode 1982/ 1983-1987I 1988 hubungan kami lebih banyak diwarnai oleh sentuhan konstitusional dan keakraban hukum. Hubungan yang bersifat horizontal lebih padat daripada hubungan vertikal, karena kami menyadari fungsi dan peranan masing-masing. Konsultasi saya lakukan lebih intensif lagi dalam rangka memecahkan masalah-masalah kenegaraan, khususnya persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perundang-undangan. Begitu pula saya sering berkonsultasi dengan beliau mengenai upaya untuk menggerakkan mekanisme kepemimpinan nasional, masalah-masalah yang berkaitan dengan GBHN dan lain sebagainya. Selaku Ketua MPR/DPR, saya melihat adanya kepekaan indra politik dan kematangan politik beliau sebagai seorang negarawan yang berwawasan luas. Kesederhanaan dan keteladanan beliau masih terpelihara dengan baik walaupun beliau telah mendapat kepercayaan sebagai Presiden/Mandataris MPR.
Setelah saya tidak lagi menduduki jabatan formal kenegaraan, kontak-kontak dan hubungan pribadi saya dengan Pak Harto tetap kuat. Begitu pula kesan saya terhadap beliau. Sebenarnya banyak sekali kesan yang menarik pada pribadi Pak Harto, baik sebagai Pimpinan Angkatan Bersenjata, Pemimpin Bangsa, Bapak Pembangunan, sebagai Kepala Negara dan maupun sebagai sesepuh dan sebagai pribadi. Tetapi kesan saya yang terutama adalah bahwa beliau selalu memperhatikan adanya keseimbangan antara rasio dan emosi serta keseimbangan daya cipta, rasa dan karsa, keseimbangan antara hal-hal yang bersifat duniawi dan ukhrowi, keseimbangan antara lahir dan tata batin, keseimbangan antara iman, ilmu dan amal. Begitu pula bahwa Pak Harto selalu berpegang teguh kepada doktrin/ajaran Pancasila, UUD 1945, Demokrasi Pancasila, GBHN, kepemimpinan nasional dan segala ketentuan perundang-undangan yang ada. Beliau juga senantiasa berpegang teguh kepada tugas, tujuan, sasaran, program operasi dan pengawasan terhadap pelak­ sanaannya. Beliau adalah figur manusia Indonesi yang utuh dan bulat. Secara pribadi saya memandang beliau sebagai figur pimpinan bangsa yang sesuai dengan 11 (sebelas) asas kepemimpinan didalam ABRI Kesebelas asas tersebut adalah taqwa, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purba wisesa, ambeg parama arta, prasaja, satya, gemi nastiti, belaka (apa adanya), dan legawa.
Pendek kata selama jangka waktu kurang lebih 33 tahun, saya cukup mengetahui kemauan dan keinginan, kandungan isi hati, gagasan, selera dan hobi, perasaan dan emosi, jiwa dan kebatinan beliau. Saya juga dapat mengetahui kepekaan, indra politik, kematangan politik, keberanian, ketangkasan dan keterampilan ilmu yang dikuasai, ketegaran hati dan ketulusan jiwa serta kepemimpinan beliau. Saya juga dapat mendeteksi cipta, rasa dan karsa beliau serta perbedaan antara marah dan tidak marah. Saya dapat pula menangkap apakah gagasan atau sesuatu usul itu dapat diterima atau tidak, disetujui atau tidak dan lain sebagainya. Kadang-kadang, bagi orang yang baru mengenal beliau, memang akan sulit untuk membedakan apakah Pak Harto marah atau tidak, menyetujui atau menolak suatu usul atau membenarkan atau tidak gagasan atau kebijaksanaan yang ditempuh.

 

***

H Amirmachmud, “Konsekuen Terhadap Cita-CitaPerjuanganBangsa”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 785-793.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: