Jun 192013
 

Presiden Soeharto: Keluarga Berencana Masalah Nasional[1]

 

SENIN, 29 Juni 1970, Pagi ini Presiden Soeharto melantik Dewan Pembimbing dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana di Istana Negara. Dalam sambutannya, Presiden mengatakan bahwa masalah keluarga berencana sungguh merupakan salah satu masalah nasional. Berhasil atau tidaknya program ini dilaksanakan akan menentukan pula berhasil tidaknya usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Presiden Mengakui jumlah penduduk yang besar memang merupakan salah satu potensi pembangunan. Akan tetapi dengan jumlah yang besar saja, tanpa disertai peningkatan kesejahteraan, maka akan menimbulkan suatu bencana yang sama besarnya (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 237. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 192013
 

Amanat Pejabat Presiden Soeharto Pada Kongres Muslimat dan Fatayat NU

Amanat Pejabat Presiden Republik Indonesia Jenderal Soeharto Untuk Kongres Muslimat Nahdhatul Ulama dan Fatayat Nahdatul Ulama, tanggal 20 s/d 24 Oktober 1967 di Surabaya. Pidato selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Download (PDF, 1.15MB)


Download (PDF, 1.81MB)


Download (PDF, 1.84MB)


Download (PDF, 1.29MB)

Jun 192013
 

Amanat Pejabat Presiden Soeharto Pada Pembukaan Kongres IX Partai Kristen

Amanat Pejabat Presiden Republik Indonesia Jenderal Soeharto Pada Pada Pembukaan Kongres Nasional IX Partai Kristen Indonesia, tanggal 18 Oktober 1967 di Bandung. Pidato selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Download (PDF, 1.09MB)


Download (PDF, 1.71MB)


Download (PDF, 1.62MB)


Download (PDF, 1.62MB)


Download (PDF, 1.67MB)


Download (PDF, 1.64MB)


Download (PDF, 1.62MB)


Download (PDF, 1.67MB)


Download (PDF, 1.54MB)

Jun 192013
 

Bung Karno Wafat, Presiden Soeharto Tetapkan Hari Berkabung Nasional[1]

 

MINGGU, 21 Juni 1970, “Bung Karno meninggal dunia pukul 7.00 pagi ini di Rumah Sakit Angkatan Darat, Jakarta. Sehubungan dengan meninggalnya bekas Presiden RI, Dr. Ir. Soekarno, Presiden Soeharto hari ini berembuk dengan beberapa tokoh masyarakat dan pemerintah di Istana Negara. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Dr. Moh. Hatta, Mintaredja SH, Dr. Sjarif Thajeb, Wilopo SH, H. Anwar Tjokroaminoto, Dr. Rubino, Prof. GA Siwabessy, Hasyim Ning, Sudharmono, SH., dan lain-lain. Hasil perembukan itu adalah dikeluarkannya Keppres No. 44/1970, yang menetapkan penyelenggaraan upacara pemakaman kenegaraan bagi almarhum Dr. Ir. Soekarno sebagai Proklamator, dan menetapkan Blitar sebagai tempat makam jenazah almarhum Bung Karno. Disamping itu Keppres juga menyatakan hari berkabung nasional selama tujuh hari sejak tanggal 21 Juni 1970. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 237. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 192013
 

Presiden Soeharto: Produk Pemilu Harus Pastikan Kemenangan Pancasila[1]

SABTU, 20 Juni 1970, “Hasil pemilihan umum yang akan datang bukan dimaksudkan hanya sekedar untuk memenuhi sarana demokrasi, melainkan harus memberikan produk terhadap kemenangan Pancasila dan UUD 1945″, demikian dikemukakan Presiden Soeharto pagi ini kepada pimpinan IPKI yang melaporkan hasil-hasil musyawarah besarnya di Jakarta baru-baru ini. Juga dikatakan oleh Kepala Negara bahwa dengan cara demokrasi kita harapkan agar supaya alat-alat demokrasi kita benar-benar diisi oleh wakil-wakil rakyat yang tidak mengkhianati Pancasila dan UUD 1945. Presiden juga menyatakan harapannya bahwa adalah lebih aman bila sesudah pemilihan umum nanti Mukaddimah dan pasal-pasal dari UUD 1945 tidak berubah. Pada kesempatan itu ia juga mengajak agar IPKI dapat bahu membahu dengan Golkar, karena ia menilai tidak ada perbedaan perjuangan antara IPKI dan Golkar. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 236. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 182013
 

Presiden Soeharto Menerima Team Tomas Cup Dan Membuka Festival Film Asia[1]

 

Senin, 15 Juni 1970, kembalinya piala Thomas ke Indonesia membawa tanggung jawab yang lebih berat bagi kita. Hal ini dikatakan oleh Presiden Soeharto di Istana Merdeka ketika menerima team Thomas Cup yang baru saja tiba kembali ke tanah air pagi ini. Kemudian Presiden mengingatkan bahwa tiga tahun lagi piala ini akan diperebutkan kembali, maka adalah kewajiban kita untuk mempertahankannya. Oleh sebab itu persiapan dan pembinaan tunas-tunas muda sudah harus dilakukan dari sekarang.

Malam ini bertempat di Hotel Indonesia, Presiden Soeharto secara resmi membuka Festival film Asia ke-16. Dalam sambutannya Presiden mengatakan bahwa ia sangat menghargai usaha-usaha untuk mempererat hubungan diantara bangsa-bangsa Asia melalui film. Festival film ini, menurut Presiden akan merupakan kekuatan penggugah kembali bangunnya kegiatan film dan dorongan bagi Indonesia untuk membuat film-film yang lebih baik. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 236. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 182013
 

Presiden Soeharto Membuka Jakarta Fair 1970[1]

 

Sabtu, 13 Juni 1970, Petang ini Presiden dan Ibu Tien Soeharto membuka Jakarta Fair 1970. Dalam pidato singkatnya, Presiden mengharapkan agar Jakarta Fair ini dapat menggairahkan para pengusaha untuk terus melakukan aktivitasnya sehingga kemakmuran rakyat Indonesia dapat diwujudkan. Presiden juga menilai bahwa turut sertanya 11 negara asing, 27 perusahaan swasta asing, dan beberapa perusahaan join venture dalam Jakarta Fair ini, akan dapat meningkatkan kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara peserta tersebut.(AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 236. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 182013
 

Perundingan Presiden Soeharto-Raja Faisal[1]

 

Kamis, 11 Juni 1970, Pagi ini Presiden Soeharto dan Raja Faisal mengadakan perundingan yang berlangsung selama satu setengah jam di Istana Merdeka. Kedua pemimpin tersebut telah membahas masalah krisis Timur Tengah. Dalam pertemuan ini Presiden Soeharto telah menegaskan kembali sokongan Indonesia terhadap perjuangan bangsa Arab. Perundingan juga menyentuh masalah hubungan ekonomi antar kedua negara. Tercapai kesepakatan bahwa masalah ini akan dibicarakan lebih lanjut oleh para menteri perdagangan kedua negara. Sebagaimana diketahui, Menteri Perdagangan Arab Saudi akan tiba di Jakarta besok. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 235-236. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 182013
 

Presiden Soeharto Menerima Raja Faisal

(Presiden Soeharto Tegaskan Dukungannya Ke Negara-Negara Arab Dalam Kaitan Dengan Israel[1]

 

Rabu, 10 Juni 1970, Presiden dan Ibu Tien Soeharto menyambut kedatangan tamu negara Raja Faisal dari Arab Saudi di Istana Merdeka. Setelah berjabat tangan, Presiden membimbing tamunya ke ruangan kepresidenan, bersama-sama duduk di kursi panjang, sementara itu Ibu Tien duduk di kursi lainnya dekat Presiden. Percakapan yang berlangsung lebih dari setengah jam itu antara lain diikuti oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi H. Aminudin Aziz, Menteri Negara Idham chalid, dan rombongan Raja Faisal.

Malam ini Presiden dan Ibu Tien Soeharto mengadakan jamuan makan malam kenegaraan untuk menghormati kunjungan Raja Faisal. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto mengemukakan sekali lagi sikap pemerintah Indonesia yang sepenuhnya berdiri di pihak bangsa Arab dalam perjuangan melawan Israel. Presiden menyatakan bahwa Indonesia telah mengusahakan dengan segala jalan dan melalui berbagai forum agar Resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 1967 dilaksanakan sepenuhnya. Indonesia juga berusaha agar hasil-hasil Konferensi Jeddah yang di prakarsai Raja Faisal dapat terlaksana demi penyelesaian krisis Timur Tengah.

Dalam pidato balasannya Raja Faisal menyatakan bahwa sikap Indonesia yang jelas memihak Arab dalam perjuangannya tidak ada yang sanggup mengingkari. Hubungan antara kedua negara terus diperkuat dan dikembangkan. Sebab hubungan yang telah terjalin ini bukan hanya pada saat terakhir ini, tetapi merupakan tradisi yang didasarkan atas kepercayaan kepada Allah dan Rasulullah.

Setelah acara makan malam, diadakan tukar-menukar cindera mata. Presiden Soeharto memberikan sebilah keris dan seekor macan yang diawetkan, sedangkan raja Faisal memberikan sebilah pedang Arab yang disepuh emas. (AFR).



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973″, hal 235. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Jun 172013
 

Amanat Pejabat Presiden Soeharto Pada Penyumpahan dan Pelantikan Kabinet Ampera

Amanat Pejabat Presiden Republik Indonesia Jenderal Soeharto Pada Upacara Penyumpahan dan Pelantikan Menteri-menteri Kabinet Ampera, tanggal 14 Oktober 1967 di Jakarta. Pidato selengkapnya dikemukakan sebagai berikut:

Download (PDF, 1.16MB)


Download (PDF, 1.63MB)


Download (PDF, 1.68MB)


Download (PDF, 1.71MB)


Download (PDF, 1.66MB)


Download (PDF, 1.38MB)