Achmad Tahir: Pak Harto Tenang Dan Penuh Wibawa

Tenang Dan Penuh Wibawa

Achmad Tahir (Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Kabinet Pembangunan IV)

Pada tanggal 8 Juni 1991 Presiden Soeharto genap berusia 70 tahun. Sebagai Mandataris MPR beliau menyandang beban harapan bangsa Indonesia mengusahakan terbentuknya masyarakat Pancasila yang adil dan merata kesejahteraannya. Suatu beban tugas bagi seseorang yang sungguh berat dan memerlukan kearifan, kebijakan dan dedikasi yang bersifat total.
Dari seorang anak desa, beliau tumbuh menjadi seorang pejuang kemerdekaan, seorang panglima, seorang ahli taktik dan strategi, seorang pemimpin politik, seorang bijak ekonomi dan seorang negarawan. Karena keberhasilan bangsa Indonesia membina masyarakat yang aman, damai dan•sejahtera banyak sekali tergantung kepada ketepatan keputusan beliau, marilah kita doakan semoga Allah SWT senantiasa membimbing, memberkati dan melindungi beliau sekeluarga. Amin.
Tiga puluh dua tahun yang lalu untuk pertama kali perjalanan hidup saya bertemu dengan perjalanan hidup beliau. Saya baru kembali dari menjalankan tugas sebagai Atase Militer di Roma, Italia. Dengan penuh semangat saya kembali ke tanah air dan siap membantu pimpinan Angkatan Darat dalam konsolidasinya di Sumatera sesudah pemberontakan PRRI/Permesta. Kesediaan saya ini rupanya tidak diperlukan. Takdir menetapkan saya harus masuk latihan yang diberi tanda pengenal sebagai kursus C II Seskoad di Bandung.
Para senior Angkatan Darat semuanya harus mengikuti pendidikan Seskoad sebagai bagian dari sistem pendidikan berjenjang AD. Jumlah siswa C II ini tidak banyak, hanya 23 perwira; diantaranya Bapak Soeharto, Panglima Divisi Diponegoro. Kursus dimulai pada tanggal 2 No-yember 1959 dan berakhir pada tanggal 17 Desember 1960. Seluruh siswa mendapat pondokan didalam kompleks Seskoad Cibangkong Bandung. Kami dapat rumah di jalan yang sejajar, beliau di ujung jalan dan kami di ujung jalan satunya. Selama 14 bulan kami hidup bertetangga dalam suasana kesederhanaan kehidupan di kompleks. Semua siswa mengikuti kursus dengan sungguh-sungguh meskipun tiga bulan pertama kami harus mengulang semua pengetahuan dasar prajurit baik teori di kelas, maupun praktek di lapangan.
Pada akhir fase persiapan tiga bulan ini, tiga perwira, seorang karena jabatannya yang tidak dapat ditinggalkan dan dua orang perwira karena kesehatannya, keluar. Tinggal20 perwira yang turut latihan secara penuh. Tiap hari pelajaran dimulai pukul 07.00 pagi setelah bersenam pagi pada pukul 05.15. Pelajaran berakhir pada pukul 14.00. Kadang-kadang malam hari dipakai pula. Kelas dibagi dalam sindikat diskusi dan Pak Harto selalu berperan sebagai ”gong” didalam merumuskan kesimpulan diskusi dalam sindikatnya.
Pada triwulan terakhir sewaktu membahas Doktrin Sendiri dan masalah pertahanan, Letnan Jenderal Gatot Subroto, Wakil KSAD, ikut sebagai siswa kehormatan. Dalam seminar ini skripsi kelompok Pak Harto (waktu itu berpangkat brigjen.) dengan judul Perang Wilayah sebagai Konsepsi Pertahanan Indonesia terpilih untuk didiskusikan.
Pada akhir kursus Bapak Soeharto keluar sebagai lulusan nomor satu. Beliau tajam dalam penilaian keadaan, cermat dalam menganalisa keadaan, tepat dalam memilih alternatif jalan pemecahan persoalan, dan tabah dalam pelaksanaan tugas. Beliau diangkat jadi Deputi I/Perencanaan KSAD dan sekaligus ditugaskan untuk menyusun Cadangan Umum Angkatan Darat (Caduad).
Saya diangkat jadi Kepala Departemen Doktrin Sendiri Seskoad dan sebagai dosen. Waktu itu saya tidak dapat menutupi kekecewaan saya atas penugasan tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali menyumbangkan tenaga saya untuk konsolidasi AD di Sumatera. Hampir saya koyak-koyak diploma tamat sekolah, kalau tidak dicegah oleh kawan-kawan. Hal ini rupanya diketahui juga oleh Bapak Soeharto.
Setahun kemudian, pada tanggal 11 Januari 1962, Jenderal Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Saya diminta beliau untuk menjadi Kepala Staf. Alhamdulillah kebijaksanaan beliau ini telah memberi kesempatan kepada saya untuk turut serta dalam suatu operasi yang bernilai sejarah dalam perjuangan nasional. Ini adalah suatu kehormatan dan penghargaan yang tak ternilai harganya bagi kami sekeluarga. Untuk sementara keinginanku bertugas di Sumatera kusimpan dalam hati. Dalam perjalanan hidup selanjutnya kelihatan bahwa beliau selalu ingat pada teman dan anak buah dan dimana mungkin membuka kesempatan bagi mereka untuk turut serta dalam berbagai kegiatan pembangunan bangsa.
Bertugas sebagai Kepala Staf bagi seorang Panglima Operasi Jayawijaya, yang mendapat petunjuk untuk merebut Irian Barat sebelum 17 Agustus 1962, berarti bekerja dibawah tekanan waktu yang sangat berat. Perencanaan, mobilisasi segala daya dan dana, pelaksanaan yang bersifat terpadu antar angkatan, pengerahan pasukan sukarela rakyat, semua ini harus dikerjakan dengan cermat dan tepat waktu. Masalah terbesar persiapan adalah masalah logistik, keterpaduan operasi militer dan mengusahakan dukungan dari pimpinan negara.
Sifat-sifat panglima yang dapat melaksanakan semua itu terungkap Pada pribadi Mayor Jenderal Soeharto. Tanpa jemu ­jemunya beliau bergerak, menyusun dan mengatur penyusunan pasukan, memeriksa penumpukan logistik di pos-pos terdepan, meneliti kesiapan pasukan di lapangan, dan lain-lain. Keistimewaan beliau adalah dapat mengingat di luar kepala semua data yang dilaporkan pada beliau. Sebagai staf kami selalu berhati-hati dan harus teliti benar bila melaporkan tentang perkembangan keadaan, sebab beliau selalu ingat data dan angka sebelumnya. Beliau juga tidak suka pekerjaan yang asal saja, tapi beliau selalu menuntut pelaksanaan yang sebaik-baiknya.
Rencana serangan disusun rapi, sistem komando dan komunikasi dimantapkan dan hari H ditetapkan tanggal 12 Agustus 1962. Dalam waktu kurang dari tujuh bulan telah tersedia bantuan logistik dan keadaan siap tempur 45.000 orang pasukan infantri, marinir dan lintas udara yang didukung oleh armada laut dan udara. Beberapa unit pasukan komando dipersiapkan untuk diterjunkan di daratan Irian Barat. Suatu prestasi kerja seorang panglima yang sungguh-sungguh luar biasa.
Di tengah-tengah kesibukan persiapan Operasi Jayawijaya ini, pada suatu petang bulan Juli 1962 Jenderal Soeharto datang dari Jakarta dan langsung memanggil saya. Dengan gembira beliau menyerahkan Surat Keputusan kenaikan pangkat saya menjadi brigadir jenderal. Alhamdulillah, hal ini bagi saya adalah suatu kejadian yang sangat bernilai sejarah. Pada tahun 1945 saya mulai dengan pangkat kolonel sebagai Komandan Divisi IV TKR Sumatera. Karena Rekonstruksi/Rasionalisasi AD pada tahun 1948 saya turun jadi letnan kolonel. Pada akhir tahun 1949, selesai perang gerilya, pang kat perwira-perwira asal Sumatera diturunkan satu tingkat. Saya berpangkat mayor infantri sewaktu pindah ke MBAD di Jakarta pada awal bulan Januari 1950. Jadi, Jenderal Soeharto yang memberi kenaikan pangkat saya untuk pertama kali kalau dibanding dengan awal perjuangan.
Di tengah segala tekanan tugas dan keterbatasan waktu tersebut saya melihat Bapak Soeharto selalu dapat mengendalikan amarah. Tetapi kami dapat menangkap dan merasakan bilamana ada sesuatu yang tidak berkenan di hati beliau. Beliau sendiri selalu kelihatan tenang, penuh wibawa, menumbuhkan kegairahan bekerja dan semangat tempur prajurit.
Bila beliau berada di markas besar Mandala di Ujung Pandang pada petang hari kami duduk-duduk dengan pakai kain sarung di teras depan rumah yang kami tempati bersama di Jalan Sei Tangka No. 39, berbincang-bincang tentang pekerjaan, soal hidup dan kehidupan. Setelah sembahyang Isya’ biasanya beliau dengan seorang sersan pergi memancing di laut untuk beberapa jam. Besok paginya beliau sudah terbang pula memeriksa pos-pos terdepan atau persiapan-persiapan logistik dan pasukan di Jawa. Hubungan beliau dengan markas besar Mandala di Ujung Pandang berjalan terus menerus 24 jam sehari semalam melalui sistem telekomunikasi yang kita siapkan.
Ketenangan beliau tambah menonjol menjelang hari H tanggal 12 Agustus 1962, meskipun kesibukan persiapan tambah memuncak. Pada hari H itu kapal-kapal selam kita sudah berada di perairan Irian Barat; pasukan pengikat/penipuan, dan pasukan pendarat bergerak ke sasaran. Sebelumnya beberapa unit pasukan komando telah diterjunkan ke sasaran di daratan Irian Barat. Akan tetapi pada hari H+ 3 (15 Agustus 1962) keluar perintah penghentian operasi, karena pada tanggal14 Agustus 1962 di New York (PBB) telah ditandatangani persetujuan tentang Irian Barat.
Kita dapat membayangkan kekecewaan pasukan dan komandannya, yang telah dipersiapkan berbulan-bulan dan ditumbuhkan semangat tempur yang berkobar-kobar, tiba-tiba dihentikan di tengah-tengah gerakan merebut sasaran. Bapak Soeharto sebagai Panglima Mandala dengan kepemimpinan beliau dapat memberi penjelasan yang dapat diterima prajurit. Dengan demikian suatu kemenangan militer telah dicegah terjadinya oleh politisi kita. Mungkin mereka ingin agar sejarah mencatat bahwa dengan diplomasi aspirasi nasional mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi telah tercapai.
Sewaktu saya kemudian akan berangkat tugas ke PBB New York sebagai Ketua Tim Militer Penyelesaian Irian Barat dan melapor kepada Menteri Luar Negeri Dr. Soebandrio, beliau bertanya pada saya bagaimana pendapat AD tentang dirinya. Terlintas di pikiran saya, rupanya Dr. Soebandrio mendapat laporan tentang kekecewaan pasukan, maka cepat saya jawab: You are what you are.
Merenungkan kembali hal-hal yang menarik pada periode Trikora ini saya teringat pada dua kejadian. Pada suatu kesempatan Ibu Soeharto datang berkunjung ke Ujung Pandang. Beliau memperhatikan dengan cermat rumah yang kami tinggali. Sewaktu beliau akan kembali ke Jakarta sempat beliau berpesan pada saya agar saya turut menjaga Bapak. Maklumlah sebagian besar yang ditugaskan di komando tidak membawa keluarga. Pesan Ibu Soeharto ini tidak berat bagi saya, karena Bapak Soeharto adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab dan tidak terpengaruh oleh godaan-godaan setempat. Karena teladan yang diberikan Panglima inilah maka pada saat tugas membebaskan Irian Barat selesai, sebagian besar perwira kembali ke rumah dalam keadaan utuh. Memang diakui ada satu-dua perwira yang tergelincir di Ujung Pandang.
Kejadian kedua yang sungguh berkesan pada saya terjadi menjelang pembubaran Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Seorang pejabat mengambil prakarsa membuat tanda pangkat mayor jenderal dari emas dan minta pada saya untuk diserahkan kepada Pak Harto sebagai tanda terima kasih dan rasa hormat. Pada suatu kesempatan saya menghadap Panglima dan saya serahkan tanda pangkat tersebut. Kelihatan wajah beliau berubah, kemudian dengan tenang tapi pasti beliau menolak pemberian ini. Bintang tersebut saya kembalikan kepada perwira yang bersangkutan dengan keterangan bahwa Panglima berterima kasih atas perhatian, tetapi tidak bersedia menerimanya. Saya tidak tahu diapakan bintang emas itu oleh perwira tersebut.
Setelah Komando Mandala dibubarkan pada awal Mei 1963, saya dikembalikan ke MBAD, dan selanjutnya atas petunjuk. Jenderal A Yani saya diangkat menjadi Wakil Ketua Dewan Telekomunikasi Rl. Sewaktu pecah pengkhianatan G-30-S/PKI pada bulan Oktober 1965 saya sedang memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan International Telecommunication Union di Montreux, Swiss. Pada kesempatan pertama, saya kembali ke Jakarta dan melapor pada Bapak Soeharto. Pesan beliau, terus amankan sistem telekomunikasi nasional dari gangguan PKI dan pendukungnya.
Pada tanggal 7 Mei 1966 saya ditugaskan beliau untuk memimpin Akademi Militer di Magelang. Kembali beliau memberi kesempatan kepada saya untuk turut serta dalam suatu tugas yang bersifat strategis. Akademi Militer pada tanggal 29 Januari 1967 diubah menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Bagian Umum/Darat. Semua taruna dari Darat, Laut, Udara dan Kepolisian selama tahun pertama dilatih bersama di Magelang. Kemudian pada akhir pendidikan kembali untuk beberapa minggu bersama melaksanakan program Integrasi Taruna Wreda disingkat Sitarda, yaitu suatu program pengabdian kepada masyarakat, sebelum dilantik menjadi letnan dua. Dalam usaha integrasi ABRI ini, khusus dalam fase pembentukan calon perwira ABRI, perhatian Bapak Soeharto besar sekali. Secara berkala dan informal beliau mengikuti perkembangannya.
Dengan dukungan Bapak Soeharto saya pun dengan penuh semangat membina akademi dan membuat rencana kerja untuk empat tahun di Magelang. Tujuan program kerja adalah bagaimana mendidik seorang remaja dalam waktu empat tahun sehingga menjadi seorang perwira muda yang tanggap, tanggon dan trengginas, kuat ideologi Pancasilanya dan tinggi semangat cinta tanah air. Suatu tugas bagi seorang Gubernur Akademi yang sungguh menarik. Kiranya takdir menentukan lain. Baru dua tahun bertugas di Akademi saya dapat perintah untuk pindah ke Jakarta; pada tanggal 18 Mei 1968 saya dilantik sebagai Deputi III (khusus) Menhankam.
Tugas utama saya sebagai Deputi Menteri adalah memikirkan perjuangan ABRI sebagai kekuatan Sospol. Bangunan politik masyarakat perlu dibangun dan peranan ABRI sebagai kekuatan sospol perlu dikerahkan dengan bijaksana untuk mencapai tujuan, yaitu melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pada periode ini terasa kembali kearifan Bapak Soeharto, yang baru saja dilantik sebagai Presiden pada tanggal 27 Maret 1968, dalam membaca medan.
Pesan beliau adalah agar kita tetap pada sasaran tapi cermat dalam pengamatan dan sabar dalam langkah. Kekompakan ABRI dan Polri perlu terus ditumbuhkan dan bangunlah kekuatan masyarakat yang ingin berkarya dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kelompok masyarakat ini kemudian dikenal dengan nama Golongan Karya (Golkar). Sejarah membuktikan kebijaksanaan beliau ini membawa buah yang diinginkan. Pemilu 3 Juli 1971 dapat kita laksanakan dengan aman dan sesuai dengan undang-undang. Golkar turut sebagai peserta Pemilu dengan tanda gambar di urutan 10 dan mendapat 236 kursi dari 360 kursi DPR.
Akhirnya pada bulan November 1969 cita-cita saya untuk turut membangun Sumatera terkabul juga. Dengan restu Bapak Presiden Soeharto saya diangkat menjadi Panglima Kowilhan I Sumatera. Dan dengan wibawa Presiden Soeharto, pembentukan Komando gabungan ABRI termasuk jajaran Polri berjalan lancar di seluruh Sumatera. Kerjasama dengan angkatan perang Malaysia, khususnya dengan Angkatan Lautnya di Selat Malaka, mulus dan efektif dalam memelihara keamanan dan kelancaran lalu lintas kapal. Koordinasi pemberantasan perdagangan gelap narkotika berjalan baik.
Pada tahun 1972 sampai pada kami bahwa ada rencanamenem­ patkan saya sebagai duta besar di salah satu negara ASEAN. Karena cita-cita saya selanjutnya ingin tetap bertugas aktif dalam jajaran Angkatan Darat maka melalui jalur tertentu saya beritahu KSAD bahwa saya tidak bersedia menjadi duta besar. Sasaran harapan saya adalah jadi KSAD. Rupanya takdir telah menentukan lain. Pangkowilhan II Jawa Letjen. Surono yang ditetapkan pemerintah menjadi KSAD. Saya ditunjuk jadi duta besar di Prancis merangkap Spanyol Pada tanggal 16 Mei 1973 sebelum berangkat ke Paris saya dapat kesempatan menghadap Presiden Soeharto. Beliau rupanya mengetahui bahwa kami sebenarnya tidak berapa gairah mendapat tugas di luar negeri, maka itu beliau menasihati supaya segala tugas harus diterima dengan ikhlas, sebab di manapun kita ditugaskan adalah merupakan bakti kita untuk negara. Kemudian beliau minta supaya pembinaan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Prancis diperhatikan agar mereka kelak setelah selesai dapat kembali ke tanah air dan bermanfaat bagi bangsa. Dalam hal ini supaya saya koordinasi dengan Jenderal Ali Murtopo.
Saya juga diminta untuk mengusahakan agar Prancis lebih luas partisipasinya dalam IGGI. Soal adanya keinginan Prancis untuk membuka bank umum di Jakarta beliau menjelaskan bahwa sewaktu kesempatan tersebut dulu dibuka, Prancis tidak memakainya. Kesempatan tersebut kini telah ditutup dan bank Prancis yang ingin beroperasi di Indonesia supaya dipersilakan bekerjasama dengan salah satu bank pemerintah. Sebagai penutup, beliau mengatakan bahwa saya ditugaskan di luar negeri selama tiga tahun untuk menambah pengalaman. Dengan pesan-pesan Bapak Presiden yang sederhana tapi mendalam ini, maka pada tanggal 20 Juni 1973 saya berangkat ke Paris. Tugas kepala perwakilan di luar negeri saya kerjakan dengan sungguh-sungguh dan dengan ikhlas sesuai petunjuk beliau. Sewaktu ada kesempatan datang ke Jakarta pada tahun 1976, untuk konsultasi dengan Departemen Luar Negeri, saya beruntung., dapat menghadap Bapak Presiden pada tanggal 17 Mei. Setelah hampir tiga tahun saya bertugas di Paris, tentu saya ingin tahu tentang rencana beliau selanjutnya tentang diri saya. Beliau memberi petunjuk baliwa saya akan ditugaskan membantu Menteri Perhubungan Prof. Dr. Emil Salim. Departemen Perhubungan adalah termasuk departemen yang luas lingkup tanggung jawabnya, yaitu membina segala macam angkutan, perhubungan, pos dan telekomunikasi, kegiatan SAR, memantau cuaca, menggarap pariwisata dan lain-lain. Termasuk didalamnya pendidikan dan latihan untuk tiap sub-sektor.
Setelah konsultasi, saya segera kembali ke Paris. Beberapa bulan sisa tugas di Eropa saya pakai untuk menambah pengetahuan tentang perhubungan dan pariwisata dengan mengunjungi beberapa pelabuhah laut dan udara di sana dan bertukar pikiran dengan pejabat-pejabat yang bersangkutan. Adalah sangat membantu dan bermanfaat kebijaksanaan Bapak Presiden yang memberitahukan saya sebelumnya tentang tugas yang akan datang. Dengan mengetahui tugas berikut ini setidaknya, sewaktu dilantik menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan, saya sudah berada dalam keadaan siap mental dan siap belajar dari pengalaman para pejabat sebelum saya, khususnya pengalaman Saudara Slamet Danudirdjo.
Sekembali tugas dari luar negeri dan menyadari tidak mungkin jadi KSAD saya merasa sudah sampai waktu untuk membulatkan bakti saya di pemerintahan. Pada babak penutup bakti ini ingin sekali saya langsung memimpin pembangunan di Sumatera Utara sebagai Gubernur/KDH. Segala pengalaman dalam 25 tahun perantauan ingin saya sumbangkan untuk memimpin pembangunan daerah, di mana pada tahun 1945 saya adalah Ketua Barisan Pemuda, yang mengobarkan semangat dukungan pada Proklamasi 17 Agustus. Saya merasa terpanggil untuk turut langsung membangun Sumatera Utara, yang kelihatannya tidak semaju daerah-daerah lain. Keinginan yang didukung oleh banyak pihak ini saya salurkan melalui jalur-jalur politik sebagaimana mestinya.
Pada awal bulan Agustus 1977 saya termasuk salah seorang anggota rombongan delegasi pemerintah Indonesia menghadiri Summit Meeting ASEAN di Kuala Lumpur. Bapa Presiden memanggil saya di suite hotel tempat beliau dan delegasi bermalam. Beliau mulai dengan menanyakan: “Mau tugas di Medan, ya ?”
Saya kaget campur bahagia karena keinginan saya untuk menjadi Gubernur Sumatera Utara rupanya telah sampai kepada beliau. Saya jelaskan pertimbangan-pertimbangan dan alasan mengapa ingin kembali ke daerah. Pada akhir audiensi ini beliau berpesan supaya saya baik-baik melaksanakan pembangunan di Sumatera Utara. Saya pun permisi ke luar dengan rasa syukur atas dorongan beliau tersebut.
Kejadian selanjutnya tidak berjalan sesuai yang saya anggap telah disetujui beliau. Saya tidak jadi Gubernur/ kepala Daerah Sumatera Utara, melainkan tetap melaksanakan tugas. sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan. Kejadian serupa ini agak langka. Biasanya apa yang beliau setujui berlakulah demikian. Beliau disegani karena keteguhan pendirian, tidak suka berubah ­ubah dan konsekuen melaksanakan suatu keputusan yang telah diambil. Saya terima kejadian ini dengan ketentuan takdir Yang Maha Kuasa.
Sewaktu dalam Kabinet Pembangunan III Marsekal Rusmin Nuryadin menjadi Menteri Perhubungan menggantikan Prof. Emil Salim; saya tetap di sana untuk membantu melanjutkan rencana­ rencana angkutan dan perhubungan yang sedang berjalan. Dalam Kabinet Pembangunan IV Bapak Presiden Soeharto menganggap keadaan stabilitas nasional telah memungkinkan untuk memanfaatkan potensi pariwisata kita, yang selama ini masih terpendam guna mendorong lagi laju pembangunan. Untuk maksud tersebut Departemen Perhubungan dipecah dua. Pariwisata dan Postel berdiri sendiri, terpisah dari Departemen Perhubungan dan menjadi Departemen Pariwisata dan Postel. Saya ditugaskan untuk membantu Bapak Presiden sebagai Menteri Parpostel. Pengalaman bertugas dibawah kepemimpinan Menteri Emil Salim selama dua tahun dan dibawah Menteri Rusmin Nuryadin selama lima tahun menjadi bekal yang sangat berharga dalam tugas baru ini.
Atas petunjuk Bapak Presiden, bebas visa untuk warganegara dari negara-negara langganan diterapkan. Suatu langkah strategis yang menjadikan iklim pariwisata Indonesia sungguh-sungguh menarik bagi wisatawan asing, penanaman modal untuk fasilitas pariwisata dan membuka kesempatan lebih luas bagi para pengrajin dan pengusaha jasa pariwisata. Secara berkala Bapak Presiden Soeharto menetapkan kebijakan lanjut untuk menghadapi perkembangan keadaan di lapangan. Dengan kebijakan tersebut saya bebas bergerak mengembangkannya.
Di tengah-tengah kesibukan acara kenegaraan, beliau selalu menyediakan waktu untuk mendengar laporan dan memberi keputusan atas saran-saran yang saya majukan. Dalam menghadapi soal-soal yang sensitif atau untuk memelihara keterpaduan pemerintah, beliau, saya rasa, sangat hati-hati tetapi tegas, tegas tetapi bijaksana dalam mengoreksi kalau perlu. Menghadapi berbagai laporan dan saran tersebut beliau selalu sabar mendengar dan bijak­ sana memberi arah. Maka itu setiap kali sesudah pertemuan dengan Bapak Presiden saya merasa lebih pasti dalam melaksanakan berbagai kegiatan sebagai pembantu beliau.
Bertahun-tahun sebagai bawahan ataupun pembantu beliau saya rasa yang paling sulit adalah menangkap isyarat beliau bila beliau tidak setuju terhadap sesuatu. Isyarat ini selalu diberi dalam berbagai cara yang sangat halus, yang sebagai seorang anak Medan kadang-kadang sukar saya membaca atau menangkapnya. Oleh karena itu saya terus saja memperjuangkan apa yang saya anggap sebagai jalan terbaik memecahkan masalah yang dibicarakan, yang mungkin tidak sejalan dengan pendapat beliau. Sejak kecil saya memang selalu melatih diri untuk dapat mandiri dan tekun dalam perjuangan hidup. Saya tidak suka pada bawahan yang cengeng, sedikit-sedikit laporan termasuk soal yang remeh-remeh. Demikian pula sikap saya ke atas, yaitu apa yang menjadi tugas saya akan saya selesaikan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Saya tidak suka membebani atasan saya dengan pikiran atau soal yang dapat saya selesaikan sendiri. Sampai sekarang masih menjadi tanda tanya pada saya apakah sikap mandiri saya ini serasi dalam kasus berikut.
Penyakit pengapuran pembuluh darah isteri saya sampai pada suatu stadium yang memerlukan perawatan di luar negeri. Untuk kepergian tersebut perlu izin dari Bapak Presiden atau sekurang­ kurangnya jangan sampai beliau mendengar dari orang lain. Oleh sebab itu saya pun melapor pada beliau tentang rencana pengobatan di luar negeri tersebut. Beliau memberi petunjuk supaya isteri saya diperiksa dulu di RSPAD oleh Tim Kesehatan Kepresidenan dan kalau perlu dirawat ke luar negeri akan diberi ongkosnya. Tawaran Bapak Presiden ini tidak kami pergunakan, karena kami tidak ingin menambah beban biaya bagi pemerintah.
Kami mengetahui Bapak Presiden banyak sekali menanggung pembiayaan perawatan kesehatan teman-teman seperjuangan. Sewaktu saya ceriterakan kejadian ini pada seorang teman, ia mengatakan bahwa tawaran Bapak Presiden tersebut seharusnya diterima dan tidak boleh ditolak, karena dapat menyinggung perasaan. Mendengar ini sungguh-sungguh saya terperanjat. Sikap mandiri saya tidaklah dimaksud untuk menyinggung perasaan seseorang apa­lagi menyinggung perasaan Jenderal Soeharto yang telah demikian banyak jasanya membuka kesempatan pada kami sekeluarga.

Pisang emas bawa berlayar,
Matang sebiji legalah hati
Utang emas boleh kubayar,
Utang budi kubawa mati

Saya bersyukur ke hadirat Ilahi yang telah mencurahkan nikmat-Nya kepada kami sekeluarga. Dengan qadar-Nya kami telah dilahirkan di zaman sewaktu bangsaku memproklamasikan, menegakkan dan membela serta mengisi kemerdekaan nasional dan dalam takaran yang telah ditakdirkan-Nya, kami suami-isteri telah dapat ikut serta didalamnya. Kita semua tidak arif tentang kandungan masa depan jalan raya yang bagaimana yang akan dilalui bangsa kita. Karena itu marilah kita panjatkan doa ke hadirat Allah SWT, sambil memohon semoga kita semua diberi-Nya kemauan untuk selalu memilih dan berada di jalan yang lurus yang diridoi-Nya. Amin

***

____________________

Achmad Tahir, “Tenang Dan Penuh Wibawa”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 539-550

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: