Jul 122018
 

PRESIDEN: ACEH TIDAK PERNAH DI ANAK TIRIKAN[1]

Banda Aceh, Suara Karya

Presiden Soeharto hari Rabu lalu meresmikan sejumlah proyek pembangunan Aceh di Banda Aceh senilai Rp 270,3 milyar, untuk membuktikan bahwa pemerintah tidak pernah menganaktirikan Aceh. Jika selama ini pembangunan di Aceh tertinggal dari daerah lain, itu semata-mata karena pemerintah belum mempunyai dana yang cukup untuk membiayai pembangunan bagi masyarakat Aceh.

Ungkapan itu dikemukakan Kepala Negara dalam temu wicara dengan sejumlah tokoh masyarakat Aceh dari berbagai kalangan, selesai meresmikan proyek-proyek pembangunan Aceh. Presiden menyatakan, sampai tahun 1989, ia menangkap bahwa masyarakat Aceh menghendaki daerahnya dibangun. Pada waktu itu yang diminta tidak banyak, hanya pembangunan jembatan-jembatan dan jalan. Namun setelah dihitung-hitung biaya untuk itu jumlahnya ternyata cukup besar.

“Saya tahu dulu masyarakat Aceh merasa dianaktirikan. Sebenarnya tidak demikian, karena memang anggaran pembangunan negara tidak ada, sehingga dipilih prioritas yang mana yang didahulukan ,”kata Presiden.

“Saya juga dulu menangkap pendapat, mengapa pemerintah pusat ini hanya mengeruk kekayaan Aceh, yaitu gas alam. Gasnya diambil, tapi Acehnya tidak dibangun. Bukan begitu. Sebab tanpa kita mendahulukan membangun kilang gas untuk LNG dan pupuk yang bisa diekspor, kita tidak akan merniliki kemampuan apa-apa.” tambah Kepala Negara.

Sekarang mendekati akhir Repelita V, pemerintah menurunkan dana cukup besar bagi pembangunan di Aceh. Hasil pembangunan itu antara lain membebaskan masyarakat Banda Aceh dari ancaman banjir dan tidak ada lagi rakit penyeberangan di seluruh ruas jalan di Propinsi Aceh. Proyek-proyek yang diresmikan Presiden lainnya adalah proyek irigasi Beuracan, proyek peningkatan jalan Jamur Sepit-Blangkejeren dan Kutacane – Batas Sumut, perbaikan lingkungan perumahan kota, proyek peningkatan SLTA Kejuruan dan teknologi Aceh Besar, berbagai proyek perikanan dan pertanian, listrik masuk desa, proyek peningkatan pendidikan perguruan Islam. Proyek informasi dan penyaluran tenaga kerja, penyiapan lahan pemukiman transmigra si di 5 kabupaten, bangunan transmisi TVRI di 7 kabupaten dan berbagai proyek perhubungan .

Proyek pengendali banjir Krueng Aceh sendiri dibangun dengan dana Rp.26 1 milyar, termasuk pernbebasan tanah seluas 1.066 hektar. Dana tersebut berasal dari pinjarnan Pemerintah Jepang yang diberikan melalui OECF sebesar 14.162juta yen.

Pengorbanan Rakyat

Presiden Soeharto menyatakan yakin bahwa sebenarnya seluruh rakyat Indonesia rela dan menyadari mengorbankan tanah yang dirnilikinya bila diperlukan untuk pembangunan. Hanya kadang-kadang di beberapa daerah timbul masalah, karena mereka belum mengerti arti pengorbanannya itu, di samping ada pihak yang mernbisikkan seolah-olah mereka dirugikan .

Pembangunan itu, kata Presiden, mernang tidak lepas daripada kewajiban berkorban, karena tanpa pengorbanan tidak mungkin pembangunan ini dapat dilaksanakan. Disebutkan, proyek pembangunan seperti irigasi atau waduk memang harus dibangun di tempat yang cocok yang tidak bisa dipindahkan ke daerah lain, oleh sebab itu memerlukan pengorbanan dari rakyat yang tinggal di daerah tersebut. Karena pembangunan ini untuk kepentingan umum, kepentingan bangsa dan kepentingan anak-cucu.

“Saya menyatakan terima kasih kepada rakyat Aceh bahwa pendekatan untuk pembebasan tanah di daerah ini tidak ada kesulitan, sebab menyadari pentingnya proyek tersebut,” katanya .

Keagamaan

Dalam amanatnya ketika meresmikan berbagai proyek pembangunan itu Kepala Negara mengemukakan , bahwa masyarakat Aceh terkenal sangat dalam rasa keagamaannya. Bangsa Indonesia memang bangsa yang kuat rasa keagamaannya. Pengalaman hidup seringkali menunjukkan bahwa kehidupan kebendaan serta kecukupan lahiriyah saja tidak dapat memberi rasa bahagia dan rasa tenteram di lubuk hati yang paling dalam. Agama adalah satu-satunya sandaran batin bagi yang dapat memberi rasa kedalaman dan ketentraman dalam hidup, baik dalam suka citanya keberhasilan maupun dalam ujiannya kesulitan .

Dengan telah selesainya berbagai proyek pembangunan, menurut Presiden, menunjukkan bahwa di Aceh pembangunan terus bergerak, maju. Hal ini juga mencerminkan betapa besar semangat dan kegairahan masyarakat Aceh dalam membangun diri dan daerahnya.

“Kita memang harus mengerahkan seluruh kemampuan nasional untuk meningkatkan pembangunan. Sebab, hanya dengan pembangunan dan terus membangun itulah kita akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moechtar pada kesempatan itu mengemukakan, proyek-proyek pembangunan yang diresmikan Kepala Negara itu yang pada umumnya telah menelan biaya tinggi, penting artinya bagi perbaikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta bagi upaya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.

Sementara Gurbenur Daerah Istimewa Aceh, Ibrahim Hasan mengemukakan, setelah perubahan struktur politik pada Pemilu 1987 yang lalu, yang diikuti dengan perubahan struktur ekonomi dan sosial kultural masyarakat, anggaran pembangunan di propinsi ini meningkat dari Rp.142 milyar (1986/1987) menjadi Rp.700 milyar (199211993). Sedangkan proyek-proyek yang diresmikan ini, kata Gurbenur, adalah yang menyentuh hajat hidup orang banyak, pemerataan, pengurangan kemiskinan dan dapat meningkatkan produktivitas dan partisipasi masyarakat.

Sebagai contoh, kata Gubernur, beberapa tahun yang lalujalan nasional sepanjang 950 km telah selesai diaspal 50 persen, dan pada akhir Pelita V akan selesai 100 persen. Begitu juga jalan propinsi dan kabupaten yang diaspal meningkat antara 50 sampai 90 persen.

Luas sawah yang beririgasi teknis setelah adanya pembangunan proyek irigasi di seluruh kabupaten di Aceh dari 40.000 hektar akan meningkat menjadi 110.000 hektar di akhir Pelita V nanti. Begitu juga di sektor-sektor lainnya, pembangunan di daerah ini terns mengalami peningkatan.

Peresmian berbagai proyek pembangunan itu ditandai dengan pembukaan selubung tugu batu Krueng Aceh serta penandatanganan prasasti oleh Presiden, dan pengguntingan untaian bunga melati jembatari Krueng Aceh oleh lbu Tien Soeharto.

Pada kesempatan itu Presiden juga secara simbolis menyerahkan sumbangan

10.000 kaset lagu-lagu petjuangan untuk generasi muda Aceh. Sementara lbu Tien Soeharto selaku Ketua Umum Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan menyerahkan sumbangan bagi para korban bencana banjir di beberapa daerah Aceh. Sumbangan tersebut diterirna langsung Gubemur Ibrahim Hasan.

Acara itu dihadiri pula oleh Menteri Koperasi Bustarti I Arifin, Menteri Pertartian Wardoyo, Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar, Menteri Muda Sekretaris Kabinet Saadilah Mursjid dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Michihiko Kunihiro.

Sumber: SUARAKARYA(29 /05/ 1992)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 560-563.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: