Sep 132017
 

BKPM TAK BENAR INVESTASI ASING TURUN DI INDONESIA

 

 

Jakarta, Antara

Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ginanjar Kartasasmita, menolak anggapan bahwa minat pihak luar untuk menanam modal di Indonesia menurun. ”Tidak benar minat orang untuk menanam modal di Indonesia turun. Investasi penanaman modal asing tetap ada dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) naik menggembirakan,” ujarnya kepada wartawan di Bina Graha Jakarta Sabtu setelah ia bersama Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono melapor kepada Presiden Soeharto.

Sebagai contoh Ginanjar menunjuk pacta data investasi asing yang masuk ke Indonesia tahun 1986 sebesar 826 juta dolar AS, diantaranya 328,9 juta dolar datang dari Jepang.

Dibanding dengan sejumlah negara Asia Tenggara dan Timur lain, catatan yang ditunjukkan Ginanjar itu menunjukkan bahwa jumlah investasi asing yang masuk ke Indonesia cukup besar.

Di tabel itu terlihat bahwa investasi asing yang masuk Singapura dalam tahun 1986 berjumlah 230,1 juta dolar AS, Malaysia hanya 24 juta dolar, Pilipina 5,3 juta, Thailand 67 juta, Korea 115 juta, dan Taiwan 206 juta dolar AS.

Tahun ini, ujar Ginanjar, investasi asing yang masuk ke Indonesia sampai triwulan pertama jumlahnya sudah tiga kali lebih besar dibanding triwulan pertama 1986. Dari Jepang saja 81 juta dolar AS, berarti lebih besar dibanding ke negara lain. Ginanjar tidak memperinci keterangan mengenai angka tahun 1987 itu. Ia hanya mengatakan, 60 persen investasi baru itu akan menghasilkan produk-produk yang bertujuan ekspor, sehingga dapat diharapkan peningkatan devisa di samping perluasan lapangan kerja.

Menurut Ginanjar, dengan menguatnya nilai yen Jepang terhadap mata uang lain, ada kecenderungan meningkatnya pengaliran investasi Jepang ke luar negeri, termasuk negara-negara ASEAN dan Asia Timur lain seperti Taiwan, Hongkong, Korea dan RRC.

Ketua BKPM Ginanjar melapor kepada Presiden tentang penyusunan Daftar Skala Prioritas (DSP) penanaman modal untuk tahun 1987. Menurut rencana, DS 1987 itu akan diumurnkan Presiden bulan Juni 1987. Pemerintah Indonesia membuat DSP penanaman modal tiap tiga tahun sekali dan setiap tahun DSP itu dievaluasi disesuaikan dengan perkembangan.

Atas pertanyaan wartawan, Ginanjar mengungkapkan bahwa dalam DSP 1987 itu bidang usaha yang terbuka akan lebih ban yak dibanding DSP 1986, terutama bidang usaha yang bertujuan ekspor. “Namun investasi untuk pengembangan kelapa sawit dan semen masih tetap tertutup,” katanya.

Juga dilaporkan rencana  pengiriman misi investasi ke Norwegia, Swedia, Denmark dan Finlandia mulai 1 sampai 10 Juni 1987. Dari kawasan Nordik ini mereka akan melanjutkan lawatan ke negara-negara Eropa Timur. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (02/05/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 446-447.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: