Agu 072017
 

PRESIDEN BERDIALOG DENGAN TIGA ANAK :

“KALAU NYANYI SENDIRI, SAYA BIASANYA MENYANYIKAN LAGU JAWA”

 

 

“Apakah Bapak suka menyanyi…?”, tanya Sarah, seorang anak perempuan berusia 12 tahun, kepada Presiden Soeharto dalam suatu kesempatan di Tapos, Bogor, Minggu siang.

“Saya senang mendengar orang menyanyi. Kalau nyanyi sendiri saya biasanya menyanyikan lagu Jawa, ” jawab Pak Harto sambil tersenyum.

“Pak, saya nanti ingin jadi presiden,” cetus Fitria (9 tahun) yang tampaknya tak mau kalah dari kakaknya.

“Boleh saja. Sebab setiap warga negara Indonesia bisa punya kesempatan menjadi presiden. Yang penting bagi kalian sekarang belajar baik-baik menuntut ilmu,” jawab Pak Harto dengan penuh kebapaan.

Kemudian dengan singkat Pak Harto menjelaskan tentang kedudukan dan peranan presiden serta hubungannya dengan MPR, setelah melihat Sarah, Fitria dan kakak laki-lakinya, Reza (13 tahun), belum memahami benar-benar soal itu.

“Bolehkah kami berkunjung ke Istana…?” tanya Fitria lagi “Boleh saja, mengapa tidak,” jawab Pak Harto.

“Perlu membeli karcis dulu untuk masuk ke istana itu?”, kejar perempuan cilik itu. Presiden sambil tertawa menjawab: “Oh, tidak”.

Gemetaran

Dialog kurang lebih 15 menit itu berlangsung di rumah peristirahatan Pak Harto di peternakan Tri-S Tapos, Bogor, setelah Presiden menerima para peserta kursus reguler Lemhannas.

Ke tiga kakak-beradik itu masuk ke ruang tamu sambil mengucapkan Assalamualaikum, kemudian duduk berhadapan dengan Pak Harto. Mereka menyatakan ingin bertemu langsung dengan Presiden untuk mengenal lebih dekat pribadi Pak Harto, sesuai dengan surat permohonan mereka sebelumnya.

Mereka telah tinggal di Amerika Serikat selama dua tahun ikut ayah­ bundanya melanjutkan studi. Setelah ini mereka akan kernbali ke AS karena ayahnya ditugaskan lagi di sana.

Ayah mereka, Ir. Tony Sechan MBA, adalah pegawai Bank Bumi Daya kelahiran Bandung, Jawa Barat

Pada akhir pertemuan singkat itu Presiden berpesan kepada ke tiga anak tersebut agar belajar sungguh-sungguh selama tinggal di Amerika sehingga ilmu yang diperolehnya nanti dapat dibaktikan kepada nusa dan bangsa.

“Aduh gemetaran nih, sampai lupa minta tandatangan,” cetus Sarah kepada Reza dan Fitria setelah mereka berada di luar, disambut dengan gelak­tawa para pengawal presiden. (RA)

 

 

Tapos, Bogor, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (29/09/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 728-729.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: