Agu 072017
 

Presiden Instruksikan Mensos:

SELIDIKI, ADA GOLONGAN TERTENTU MENDISKREDITKAN PELAKSANAAN PORKAS

 

 

Mulai Awal Agustus Penjualan Kupon Porkas Sistim Loket

 

Mulai awal Agustus 1986 pengedaran dan penjualan kupon berhadiah Porkas sepak bola dilaksanakan melalui sistem loket, sehingga jumlah dan lokasi penjualannya dapat lebih mudah diawasi.

Demikian diumumkan Menteri Sosial Ny. Nani Sudarsono kepada wartawan hari Senin, setelah ia melaporkan perkembangan dan usaha penertiban Porkas kepada Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta.

Ia menegaskan, terhadap para distributor, agen dan sub-agen yang terbukti melakukan penyimpangan akan dikenakan penindakan tegas oleh pihak Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial dan pihak pelaksana, misalnya berupa pemecatan sebagai distributor, agen atau sub-agen.

Mensos juga mengatakan, penyalahgunaan kupon Porkas oleh bandar dan pelaku judi buntut, sebagai selubung alat judi buntut, secara terus menerus akan dikenakan penindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku, antara lain ketentuan dalam Keputusan Presiden No. 133/1965 yang menggolongkan judi atau lotere buntut sebagai tindak pidana subversif.

Ia menilai, ekses-ekses negatif penyelenggaraan Porkas secara obyektif masih dalam batas-batas yang terkendali, dengan menyadari bahwa ekses­ekses itu bersifat kasuistik.

“Justeru praktek-praktek judi buntut yang sudah mengakar secara intensif dan terus menerus harus kita berantas, oleh pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Sinyalemen

Dalam kesempatan itu Presiden Soeharto menginstruksikan Mensos dan aparat penegak hukum terutama Kopkamtib agar menyelidiki kebenaran sinyalemen yang diterimanya, bahwa ada golongan tertentu mendiskreditkan pelaksanaan Porkas sepak bola dengan tujuan melegalisasi kegiatan judi buntut, toto dan hwa-hwe yang dilaksanakan golongan tersebut.

Golongan tersebut, menurut Ny. Nani Sudarsono, menghendaki Porkas dihentikan, karena selama ini Porkas merupakan saingan dari judi liar yang mereka laksanakan.

“Kalau sinyalemen ini benar, maka ini harus segera diberantas karena judi buntut, hwa-hwe dan judi-judi liar lainnya bertentangan dengan undang-undang,” tegas Minteri.

Presiden juga memerintahkan supaya dilakukan pencegahan masuknya kupon-kupon lotere dari luar negeri, bahkan apabila perlu boleh dilakukan penyitaan dan pelakunya diajukan ke pengadilan.

Menurut Mensos, kupon lotere asing sebagian besar datang dari Singapura dan Malaysia, peredarannya terbanyak di Sumatera.

Dana Porkas

Mensos mengungkapkan, sampai dengan periode ke-27 dana Porkas yang telah terkumpul berjumlah Rp. 6,7 milyar, ditambah Rp. 409 juta dana untuk pembiayaan pertandingan sepak bola yang dikaitkan dengan jadwal Parkas sepak bola.

Dari jumlah itu telah dikeluarkan dana untuk pembinaan olahraga sebesar Rp. 909 juta untuk pembinaan sepak bola lewat PSSI dan Rp. 250 juta bantuan biaya Pekan Olahraga Penyandang Cacat se-Asia Pasifik (Fespic Games) IV di Solo mendatang. Sedang pajak hadiah yang disetorkan ke kas negara sampai kini berjumlah Rp. 1,1 miliar.

Ny. Nani Sudarsono mengatakan, bantuan dana Porkas yang bersifat suplemen dipusatkan untuk peningkatan prestasi olahraga team Indonesia pada Sea Games 1987 di Jakarta nanti.

Untuk itu bantuan dana Parkas akan dipergunakan bagi biaya pemusatan latihan tingkat propinsi pada 27 daerah oleh KONI daerah masing-masing serta pemusatan latihan tingkat nasional oleh KONI pusat.

Dari kebutuhan dana yang diajukan KONI Pusat melalui Menpora sebesar Rp. 8,5 miliar, kata Mensos, akan dialokasikan dana Porkas Rp. 6 miliar, terdiri Rp. 4,5 miliar untuk bantuan 27 propinsi (bantuan terkecil Rp. 50 juta dan terbesar Rp. 470 juta) serta Rp. 1,5 miliar lagi untuk biaya permusatan latihan tingkat nasional lewat KONI pusat.

Di samping itu, merencanakan menghimpun dana tetap atau dana abadi untuk olahraga sebesar Rp. 6 sampai Nopember mendatang. Sekarang dana abadi sudah terkumpul Rp. 3 miliar, kata Menteri Sosial.

Mengenai yang Nani Sudarsono mengungkapkan sampai periode ke-25 sudah diedarkan sekitar 200 juta lembar. Sebanyak 46 juta lembar adalah kupon putih dan hanya 8,63 persen yang laku. Sedang kupon berwarna sekitar 151 juta lembar dan yang laku 56 persen. (RA)

 

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (29/07/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 725-727.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: