Des 312016
 

PRESIDEN: AJAKAN UNTUK HIDUP SEDERHANA TIDAK BERARTI MEMUSUHI ORANG BERPUNYA [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan hari Rabu di Jakarta, bahwa ajakannya untuk hidup sederhana bukanlah merupakan suatu canang untuk memusuhi orang2 yang berpunya atau pengusaha2 yang berhasil, lebih2 mereka yang berhasil dalam usahanya yang produktif dengan cara2 halal.

Kepala negara yang berbicara ada pembukaan rapat kerja gubernur/kepala daerah seluruh Indonesia di Istana Negara menandaskan juga, bahwa pola hidup sederhana bukan berarti kembali hidup dengan gaya melarat.

“Jangan lupa”, kata Presiden, “kita membangun justru untuk memperbaiki mutu kehidupan lahir maupun batin”.

“Gaya hidup mewah” olehnya dinilai sebagai suatu pemborosan yang tidak mencerminkan sikap prihatin bangsa yang sedang membangun dan yang juga tak akan dapat dipikul oleh kemampuan ekonomi sekarang ini.

“Yang paling penting”, demikian ditambahkan, “dengan pola hidup sederhana akan terbinalah kesetiakawanan sosial, yang merupakan kekuatan utama untuk meneruskan pembangunan itu”.

Orang2 yang Menonjol

Oleh Kepala Negara diakui, bahwa sejalan dengan naiknya kegiatan ekonomi dan pembangunan dalam Repelita I, muncul berbagai industri dan dunia usaha swasta yang membawa serta lahirnya orang2 yang menonjol dalam memperoleh kemajuan materiil.

“Ini adalah tahap yang mau tidak mau harus kita lalui”, kata Presiden.

“Kita telah memberikan kesempatan kepada mereka yang mampu mempunyai modal dan ketrampilan untuk melaksanakan pembangunan melalui penanaman modalnya”.

“Mereka ini telah bekerja dengan baik dan memperoleh hasil yang juga bermanfaat bagi pembangunan nasional”, kata Presiden.

“Kita telah memberikan kesempatan kepada mereka yang mampu mempunyai modal dan ketrampilan untuk melaksanakan pembangunan melalui penanaman modalnya”. Mereka ini telah bekerja dengan baik dan memperoleh hasil yang juga bermanfaat bagi pembangunan nasional”, kata Presiden.

Akan tetapi oleh kepala negara ditandaskan, bahwa peningkatan ekonomi Indonesia tidak akan dibiarkan menyimpang ke arah kapitalisme. (DTS)

SUMBER: ANTARA (6/02/1974)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 408-409.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: