Okt 312016
 

Jakarta, 18 September 1998

Salam Sejahtera

Bapak H. M. Soeharto

yang terkasih

BAPAK HARUS TETAP SEMANGAT [1]

Bersama ini saya memberikan diri menulis surat ungkapan hati nurani saya kepada Bapak yang mana saat-saat ini banyak mendengar banyak hal-hal yang sangat menyakitkan perasaan Bapak sebagai seorang mantan pimpinan negara Indonesia ini.

Terus terang saya sendiri yang bukan sasaran dalam hal ini sangat menyakitkan perasaan bahkan membuat daya tahan tubuh ini tak berdaya. Bisa saya bayangkan bagaimana perasaan Bapak saat ini, apalagi melihat sosok tubuh Bapak yang sudah tua dan perlu kekuatan dan penghiburan dari keluarga.

Oleh karena itu saya sebagai pengagum Bapak ingin menguatkan dan memberi semangat hidup agar kiranya Bapak membuka diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati sesuai menurut kepercayaan agama yang kita pegang.

Utarakanlah perasaan dan permasalahan yang Bapak hadapi saat-saat ini dan minta petunjuklah kepada Tuhan. Di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang sempurna bahkan sekali pun orang tersebut dihormati. Masing-masing kita mempunyai kesalahan.

Di mata Tuhan dosa kecil dan besar sama saja. Yang penting kita serahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan. Harapan saya, di masa tua Bapak sediakan waktu untuk Tuhan baik dalam membaca buku-buku rohani, perkumpulan rohani atau pendekatan dengan keluarga (anak, menantu, cucu, dll), berolahraga sehingga beban Bapak bisa berkurang secara perlahan-lahan dan pikiran pun menjadi terang.

Ingat ya Pak, kasihilah Tuhan dengan :

Segenap hatimu

Segenap jiwamu

Segenap akal budimu

Segenap kekuatanmu

Di dalam agama yang kita anut, ada ajaran untuk saling mengampuni dan mengasihi. Demikian juga dengan Bapak, kiranya Bapak mau memaafkan orang yang telah menghujat Bapak dengan kata-kata yang tak pantas untuk didengar dan kasihilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Dengan demikian nama Bapak harum di surga yang kekal.

Doakanlah orang yang telah menganiaya Bapak maka upah Bapak besar di surga. Setiap hari saya terus berdoa agar Tuhan memberikan seorang pemimpin bangsa yang takut akan Tuhan sehingga setiap langkah kehidupannya berjalan di dalam Tuhan sehingga negara kita Indonesia tercinta ini adil dan makmur.

Mari kita saling mendoakan bangsa dan negara RI, keluarga dan handai tolan. Saya dan keluarga tidak ada sedikit pun membenci dan bahkan kami mendoakan Bapak dan keluarga agar Tuhan mengampuninya. Di dalam agama yang saya anut mengatakan satu, dua orang berkumpul dalam nama-Ku maka seluruh isi keluargamu diselamatkan. Sungguh indah ucapan Tuhan kepada umat-Nya. Saya ingin supaya bapak seluruh keluarga Bapak demikian juga, berjalan di dalam Tuhan.

Saya bangga kepada Bapak sebagai mantan pimpinan bangsa Indonesia di mana banyak hal yang sudah Bapak lakukan untuk kemajuan bangsa ini sehingga nama Indonesia harum di penjuru dunia. Apalagi sewaktu saya melihat di televisi, ciri khas Bapak murah senyum dan berwibawa.

Melalui ungkapan surat ini kiranya beban Bapak berkurang dan hati pun tenang. Doa dan harapan dari saya sebagai pengagum Bapak biarlah di masa tua Bapak boleh menikmatinya dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga dan jangan lupa jagalah kesehatan Bapak, hiduplah di dalam Tuhan. Merdeka. (DTS)

Hormat saya,

Deboreh Sihite

Jakarta

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 76-77. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: