Okt 262016
 

Presiden Soeharto Menghadiri Pembukaan SU MPR Tahun 1993 [1]

 

SENIN, 1 MARET 1993 Pukul 9.00 pagi ini Presiden dan Ibu Soeharto menghadiri upacara pembukaan Sidang Umum MPR Tahun 1993 yang berlangsung di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta. Sebagai acara puncak hari ini adalah Pidato Pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR, Soeharto.

Presiden Soeharto memulai pidatonya dengan mengemukakan bahwa dalam menjalankan kepemimpinan bangsa selama lima tahun yang lalu, ia selalu berpedoman pada sikap realisme yang berpenghargaan. Artinya kenyataan kita lihat sesuai dengan apa adanya; yang baik kita lihat dengan penuh keyakinan, untuk bekal pendorong kemajuan selanjutnya. Yang buruk kita terima dengan penuh kesadaran untuk bekal perbaikan dan agar tidak terulang kembali. Dengan begitu sebagai bangsa kita membuat yang sudah baik menjadi lebih baik lagi dan membuat yang kurang baik menjadi baik. Katanya, semangat itulah yang ikut mewarnai laporan pertanggunganjawabannya hari ini.

Kita telah berhasil menata kembali lembaga-lembaga politik kita. Tugas bersama kita selanjutnya adalah terus memantapkan lembaga­-lembaga politik itu agar terus menerus memberi kesegaran dan dinamika kehidupan kita. Dalam membangun kehidupan politik tadi kita jelas tidak akan kembali ke belakang. Pengalaman kita menunjukkan kegagalan demokrasi liberal maupun demokrasi terpimpin untuk mendukung pembangunan bangsa kita. Sebaliknya, kita harus memandang kedepan untuk meningkatkan penerapan demokrasi berdasarkan Pancasila sejalan dengan kemajuan yang kita capai dalam pembangunan pada umumnya.

Dari sekian banyak langkah pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif, Presiden menyinggung normalisasi hubungan kita dengan RRC setelah mengalami pembekuan selama 23 tahun. Ini merupakan manifestasi nyata dari politik luar negeri yang bebas aktif. Normalisasi hubungan itu membuktikan betapapun besarnya perbedaan antara dua negara, namun persahabatan dapat dijalin atas dasar saling menghormati kedaulatan, saling tidak mencampuri urusan dalam negeri dan saling kerja sama. Normalisasi hubungan ini juga memberi sumbangan yang berarti bagi stabilitas di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara yang selanjutnya juga melicinkan jalan bagi berbagai pendekatan regional lainnya.

Mengenai perkembangan ekonomi, Presiden antara lain mengatakan bahwa selama lebih dari dua dasawarsa terakhir, sektor industri telah tumbuh lebih cepat dari sektor-sektor lain, yaitu dengan rata-rata lebih dari 12% per tahun. Dengan perkembangan yang pesat itu, peranan sektor industri dalam produksi nasional telah meningkat dari 9,2% dalam tahun 1969 menjadi 21,3% dalam tahun 1991. Yang sangat membesarkan hati adalah makin banyak produk industri kita yang mampu bersaing dan menembus pasaran dunia. Hasil-hasil industri sekarang menjadi tumpuan dan andalan utama ekspor non-migas kita.

Akhir-akhir ini kegiatan agroindustri juga berkembang pesat. Perkembangan kegiatan agroindustri ini tidak saja meningkatkan nilai tambahan hasil-hasil pertanian, tetapi juga mempererat keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri.

Kemajuan penting lainnya dalam memantapkan struktur ekonomi kita adalah makin kurangnya ketergantungan kita pada sektor migas. Dalam satu dasawarsa terakhir ini penurunan peranan migas itu tampak dalam produksi nasional, dalam ekspor dan dalam penerimaan dalam negeri untuk anggaran negara. Dalam produksi nasional peranan migas telah menurun dari 24% dari seluruh produksi nasional dalam tahun 1981 menjadi 15,6% pada tahun 1991. Dalam ekspornya, perannya menurun lebih cepat lagi, yaitu dari 82% dari seluruh penerimaan ekspor kita dalam tahun 1981/ 1982 menjadi sekitar 32% dalam tahun 1992/1993. Sebaliknya peranan ekspor non-migas dalam ekspor Indonesia secara keseluruhan telah meningkat dari 18% dalam tahun 1981/1982 menjadi 68% dalam tahun 1992/1993. Peningkatan ekspor non-migas sungguh sangat pesat. Dalam tahun 1968 nilai ekspor non migas baru sekitar US$570 juta untuk seluruh tahun. Dewasa ini, ekspor non-migas itu sudah mencapai lebih dari US$2 miliar untuk setiap bulan. Dalam tahun 1981/1982 penerimaan dalam negeri dari sumber non-migas hanya sekitar 29% dari seluruh penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 1992/1993 penerimaan negara dari sumber non-migas telah meningkat menjadi lebih dari 70%.

Akhir Presiden Soeharto mengatakan bahwa keberhasilannya adalah berkat dukungan, kepercayaan dan kerja keras dari semua kalangan, golongan dan generasi bangsa ini. Dikatakannya bahwa segala kekurangan­nya adalah karena keterbatasannya sebagai manusia. Atas segala dukungan terhadap kepemimpinannya, ia sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya. (DTS)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 631-632. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: