Okt 202016
 

Respon Berbagai Negara Terhadap Sikap Indonesia dalam SU PBB  [1]

 

KAMIS, 24 SEPTEMBER 1992 Kepala Negara pukul 10.00 menyampaikan pidato di depan Sidang Umum PBB dan sore harinya menerima kunjungan Presiden Djiboti El Hadja Hassan Gouled Aptidon dan PM Selandia Baru Jun Bolger.

Menurut Moerdiono secara terpisah menjelaskan kepada mereka hasil-hasil KTT GNB.

Sekjen PBB menilai KTT GNB ke-10 merupakan KTT yang paling berhasil dalam 15 tahun terakhir ini. Ia mengatakan bahwa PBB menyediakan diri untuk menjadi alat bagi GNB dan siap bekerja sama dengan GNB dalam mengupayakan restrukturisasi, revitalisasi dan demokratisasi PBB.

Menlu Bulgaria Stoyan Ganev (Ketua Sidang Umum PBB) menyampaikan keinginannya agar hubungan antara Indonesia dengan negara dapat lebih ditingkatkan.

Presiden Latvia Amatolijs Gorvunovs menawarkan pelabuhan­-pelabuhannya di Laut Baltik untuk dimanfaakan oleh Indonesia dalam usaha meningkatkan perdagangan di Eropa.

Presiden Soeharto dan Presiden Mongolia Ochirbat sepakat untuk adakan saling tukar kunjungan pejabat dan kalangan yang lebih luas antara kedua negara agar dapa dijalin saling mengertian. Presiden Mongolia menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa menyadiri KKT GNB di Jakarta karena kesibukan pemilu dinegerinya dan mengundang Presiden Soeharto mengunjungi negerinya.

PM Selandia Baru, Jun Bolger menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia karena mendukung keinginan negaranya untuk duduk di kursi keanggotaan tak tetap DK PBB.

Presiden Djibouti Hassan Gouled Optidon meminta Indonesia untuk membuka kantor perwakilan di negaranya, tanpa dirangkap untuk negara lainnya. Presiden Djibouti juga mengharapkan Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan bidang industri kecil. Menanggapi permintaan tersebut Presiden Soeharto bahkan menawarkan untuk menyampaikan pengalaman Indonesia di berbagai bidang pembangunan, bukan hanya industri kecil. Atas permintaan Djibouti Presiden Soeharto setuju akan mengirim satu tim yang akan melihat kemungkinan­-kemungkinan nyata yang dapat dilaksanakan guna meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara. (DTS)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 577-579. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: