Jul 302016
 

Presiden Soeharto Menyampaikan Nota Keuangan di Depan Sidang Paripurna DPR [1]

 

SABTU, 7 JANUARI 1989 Presiden Soeharto hari ini menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 1989/1990 didepan sidang paripurna DPR. RAPBN 1989/1990 merupakan pula tahun pertama pelaksanaan Pelita V, oleh karena itu hari ini juga Kepala Negara menyampaikan Rancangan Repelita V.

Pada awal pidatonya Presiden menjelaskan beberapa hal pokok mengenai Repelita V. Dikatakannya bahwa Repelita V itu disusun secara realistis, dengan melihat secara jernih perspektif perjalanan sejarah bangsa kita, dan dengan menimba pengalaman pembangunan selama ini. Keseluruhannya itu tetap kita tempatkan dalam perspektif pandang jauh ke depan, sebagai pencerminan harapan, semangat juang dan wawasan sejarah kita bersama dalam menuju cita-cita dan arah pembangunan jangka panjang.

Selanjutnya dikatakannya bahwa sesuai dengan petunjuk GBHN 1988, ada dua tujuan kembar Repelita V yang harus kita capai. Pertama, meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang makin merata dan adil. Kedua, meletakkan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.

Prioritasnya diletakkan pada pembangunan ekonomi, dengan titik berat pada sektor pertanian dan sektor industri. Pembangunan sektor pertanian diarahkan untuk memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan produksi hasil pertanian lainnya. Pembangunan sektor industri diarahkan pada industri yang menghasilkan barang ekspor, industri yang banyak menyerap tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian dan industri yang menghasilkan mesin-mesin industri. Semuanya itu dibangun dalam rangka mewujudkan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian, baik dari segi peranannya dalam produksi nasional maupun dari segi penyerapan tenaga kerja.

Dalam Repelita V ini kita mengambil sasaran laju pertumbuhan ekonomi sebesar rata-rata 5% per tahun. Laju pertumbuhan ekonomi ini saling mendukung dengan laju pertumbuhan di berbagai sektor. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh sebesar rata-rata 3,6% per tahun, dengan laju kenaikan produksi beras rata-rata 3,2% per tahun untuk memantapkan swasembada pangan. Sektor industri diperkirakan tumbuh 8,5% per tabun, dengan sub sektor industri non-migas diharapkan tumbuh dengan rata-rata 10% per tahun.

Pertumbuhan industri non-migas ini penting untuk mendukung tiga hal. Pertama, perobahan kearah struktur ekonomi yang lebih seimbang antara sektor pertanian dan sektor industri. Kedua, peningkatan ekspor non-migas. Ketiga, penciptaan lapangan kerja baru dalam jumlah yang memadai.

Dalam lima tahun mendatang, peranan sektor industri dalam produksi nasional diperkirakan meningkat dari 14,4% menjadi 16,9%, dan peranan sektor pertanian turun dari 23,2% menjadi 21,6%. Proses kearah keseimbangan antara sektor pertanian. dari sektor industri itu juga diikuti oleh proses menuju keseimbangan antara sektor migas dan sektor non-migas. Apabila dalam tahun 1988 peranan sektor migas dalam produksi nasional adalah 19,8%, maka dalam tahun 1993 menurun menjadi 16,3%.

Mengenai tahun pertama Repelita V diperkirakan oleh Kepala Negara bahwa kita masih akan menghadapi berbagai rintangan. Untuk menghadapi rintangan-rintangan itu kita memang telah menyiapkan diri. Langkah-langkah penyesuaian sudah dilakukan jauh hari sebelumnya dan hasilnya mulai tampak. Basis struktur ekonomi kita makin luas dan makin dalam, dengan topangan kekuatan dasar perekonomian kita sendiri dalam kesatuan ekonomi nasional. Itulah sebabnya mengapa kita memiliki ketangguhan dalam meredam goncangan-goncangan ekonomi dari luar. Namun jika nanti masih ada pukulan ekonomi dunia, maka akibatnya malah akan terasa berat dan dapat memberikan dampak berarti.

Selanjutnya Presiden menjelaskan pokok-pokok RAPBN 1989/1990. Antara lain dikatakan babwa penerimaan negara sebesar Rp36,5 triliun lebih. Ini berarti kenaikan sekitar 26% dari APBN 1988/1989. Penerimaan dalam negeri akan mencapai Rp25 triliun lebih atau naik hampir 16%, sedangkan penerimaan pembangunan diperkirakan lebih dari Rp 11 triliun atau bertambah sekitar 58%. Penerimaan dalam negeri merupakan 70% dari penerimaan negara, sedang penerimaan pembangunan merupakan 30%.

Sementara itu pengeluaran rutin direncanakan Rp23 triliun lebih atau naik sekitar 17%. Dengan meningkatnya penerimaan dalam negeri, maka tabungan pemerintah akan mencapai Rp1,8 triliun. Pengeluaran pembangunan akan mencapai Rp13 triliun atau naik sekitar 47%. Pengeluaran rutin merupakan kurang lebih 64% dari pengeluaran negara, sedangkan pengeluaran pembangunan meliputi 36% dari pengeluaran negara.

Demikian antara lain beberapa pokok penting dari RAPBN tahun pertama Repelita V. (DTS)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 115-117. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: