Jan 312015
 

Serahkan Hadiah Pemenang Lomba Insus, Presiden Soeharto Tekankan Panca Usaha Tani[1]

 

SABTU, 12 JANUARI 1980 Pukul 10.00 pagi ini, bertempat di Istana Negara, Presiden Soeharto menyerahkan hadiah bagi para pemenang Perlombaan Intensifikasi Khusus Tanaman Padi Sawah Musim Tanam 1979 yang diikuti oleh 17 provinsi. Hadiah pertama untuk tingkat nasional, berupa Tabanas sebesar Rp5 juta dan sebuah mobil pick-up, diraih oleh kelompok tani desa Rejasa, kabupaten Tabanan, Bali. Selain itu diberikan pula hadiah untuk pemenang pada tingkat provinsi, bempa bempa 20 ekor sapi; sedangkan untuk tingkat kabupaten, hadiahnya meliputi 114 jenis, antara lain alat pemberantas hama, dua radio kaset, sebuah pesawat televisi dan satu set buku 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Dalam amanatnya, Presiden mengatakan bahwa prioritas pembangunan tetap diletakkan pada pembangunan ekonomi, dengan titik berat pada pembangunan sektor pertanian menuju swasembada pangan. Untuk itu kita harus meningkatkan produksi pangan, baik dengan melaksanakan intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi. Tujuan pembangunan sektor pertanian itu adalah pertama-tama memenuhi kebutuhan sendiri akan pangan. Tujuan selanjutnya adalah menaikkan pendapatan kaum tani yang mempakan lapisan terbesar rakyat kita. Di daerah-daerah di luar pulau Jawa dan daerah-daerah yang jarang penduduknya, pembangunan pertanian ini dapat pula memperbesar arus transmigrasi.

Sehubungan dengan itu, Kepala Negara berseru kepada para petani agar terus berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan produksi beras. Menyangkut peningkatan produksi beras ini, Presiden mengingatkan bahwa dalam Repelita III produksi beras harus meningkat rata-rata 4% setahun.

Setelah menyampaikan amanatnya, Presiden Soeharto mengadakan dialog bebas dengan para petani peserta perlombaan intensifikasi khusus itu. Di sela-sela dialog itu, Presiden Soeharto mengungkapkan keyakinannya bahwa jika panca usaha tani benar-benar dilaksanakan dalam usaha meningkatkan produksi pangan khususnya beras, maka Indonesia tidak hanya akan bisa berswasembada, bahkan bisa pula mengekspor beras. Keyakinan ini·didasarkannya pada adanya kemampuan Indonesia untuk mencapai produksi sampai 18 juta ton setahun, sehingga pencapaian swasembada pangan tidak menjadi masalah. (AFR)

____________________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983”, hal 256-257. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: