Jul 262013
 

Presiden Soeharto: Duta Besar Harus Bekerja Penuh Dinamika[1]

SABTU, 27 Juli 1974,  Di Bina Graha pagi ini Presiden Soeharto menerima Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sjarif Thajeb, beserta para rektor dari 18 PTN se-Jawa. Pada kesempatan itu, Kepala Negara telah memperkenalkan Yayasan Beasiswa Supersemar yang dibentuk dan diketuainya sebagai seorang warganegara biasa. Dijelaskannya bahwa tujuan yayasan ini adalah untuk memberikan bantuan kepada para pemuda/pemudi Pancasilais, cerdas, pandai tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk meneruskan pelajaran karena kurang biaya. Ia mengajak para rektor tersebut untuk bertukar fikiran mengenai bagaimana sebaiknya pelaksanaan pemberian bantuan itu, sehingga tujuan yayasan dapat tercapai.

Sebelumnya, di Istana Negara, Presiden Soeharto telah melantik empat orang duta besar baru. Mereka adalah duta besar Letjen. Sugih Arto untuk India, Duta Besar Abdul Habir untuk Afghanistan, Duta Besar Iljas Hamzah untuk Hongaria, dan Duta Besar Mayjen. (Pol) R Soeparno Soeria Atmadja untuk Birma.

Dalam pidato pelantikannya, Kepala Negara mengatakan bahwa kita wajar mempunyai harapan atas hari depan dunia, karena tampaknya semua bangsa bertambah sadar bahwa perdamaian dunia dan pembangunan bangsa-bangsa merupakan kunci bagi keselamatan semua. Sementara itu para duta besar yang baru, diingatkannya bahwa tugas duta besar bukanlah tugas rutin saja. Dalam dunia kita yang sedang bergerak dengan penuh dinamika ini, maka seorang duta besar harus menjalankan tugasnya dengan penuh dinamika pula. Jika tidak, maka dia akan gagal, demikian ditegaskannya.  (AFR).


[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 141. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: