1974-02-06 Presiden Soeharto Berikan Lima Petunjuk dalam Raker Gubernur

Presiden Soeharto Berikan Lima Petunjuk dalam Raker Gubernur[1]

RABU, 6 FEBRUARI 1974, Presiden Soeharto pukul 09.00 pagi ini membuka rapat kerja gubernur seluruh Indonesia di Istana Negara. Dalam amanatnya, Kepala Negara mengemukakan lima petunjuk sebagai pedoman buat para gubernur didalam melaksanakan tugas mereka. Kelima petunjuk itu adalah, pertama, binalah persatuan yang kokoh diantara semua lapisan masyarakat, karena persatuan mutlak diperlukan untuk memperkuat stabilitas yang dinamis. Kedua, tingkatkanlah kewaspadaan, terutama terhadap usaha-usaha merusak persatuan, merusak stabilitas, usaha-usaha menghambat pembangunan dan kegiatan-kegiatan merongrong Pancasila dan UUD 1945. Kita harus bertindak tegas terhadap mereka yang hendak merusak semuanya itu.

Ketiga, teruskan dan tingkatkan pelaksanaan pembangunan di daerah masing-masing. Usahakan kelancaran pelaksanaan proyek-proyek pembangunan. Keempat, agar pembangunan berhasil, perluaslah ketertiban dan keikutsertaan seluruh masyarakat. Untuk itu, lanjutkan dan perluas komunikasi dua arah. Kelima, binalah kerjasama antara semua aparatur pemerintahan yang ada di daerah, baik aparatur sipil maupun ABRI. Akan tetapi, kerjasama itu tidak berarti kaburnya tugas dan tanggungjawab masing-masing dalam bidangnya sendiri.

Pada kesempatan itu pula, Presiden telah mengungkapkan latar­belakang Peristiwa Malari. Diungkapkannya bahwa dibelakang Peristiwa Malari itu ternyata terdapat unsur-unsur yang ingin mencapai keinginannya melalui cara-cara yang destruktif, menggunakan hak-hak demokrasi yang tidak sesuai dengan, usaha Orde Baru untuk menegakkan kehidupan konstitusi, demokrasi dan hukum. Tindakan-tindakan yang tidak bertanggungjawab itu dibumbui dengan desas-desus, adu-domba antara pejabat, merangsang ketidakpuasan dan keresahan dalam masyarakat, merupakan api penyulut kekacauan dan kerusuhan yang jelas sangat merugikan rakyat banyak.

Menyinggung soal pola hidup sederhana, dikatakannya bahwa ajakan untuk hidup sederhana bukanlah merupakan suatu canang untuk memusuhi orang-orang yang berpunya atau pengusaha-pengusaha yang berhasil, lebih-lebih mereka yang berhasil dalam usaha yang produktif dengan cara-cara yang halal. Ditegaskannya bahwa tujuan pola hidup sederhana adalah untuk memberi arah agar segala kemampuan dapat digunakan secara efisien dan efektif, sehingga terbinalah kesetiakawanan sosial yang merupakan kekuatan utama untuk meneruskan pembangunan itu.

Presiden Soeharto mengharapkan agar penyelesaian berdasarkan hukum terhadap Peristiwa Malari dapat dipercepat. Demikian dikatakan oleh Jaksa Agung Ali Said SH usai menghadap Kepala Negara siang ini di Istana Merdeka. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 99. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.